Cerita untuk Anak: Rajin Pangkal Pandai

Foto2556

Gambar oleh Iffah (Nur Hanifah, 2012)

Setiap mengerjakan tugas sekolah, Yoko selalu rewel dan menangis.
“Bu Guru jahat. Aku tidak mau sekolah,” ujarnya sambil menangis. Bukunya dilipat-lipat dan dipukul-pukul. Ada juga yang dilempar.
Ibu kehabisan akal, harus bagaimana menghadapi Yoko.

Demikian juga dengan hari Minggu itu. Meskipun sejak pagi, Yoko bermain dengan riang sampai siang. Tetapi, ketika ibu mengingatkan untuk menyiapkan seragam, buku, dan memeriksa tugas sekolah, maka Yoko pun mulai rewel dan merajuk.

Hingga suatu hari, Yoko pulang sekolah sambil menangis,
“Ada apa Yoko?” tanya Ibu.
“Bu Guru jahat. Masak aku dimarahi terus,” ujarnya.
“Bu Guru itu tidak jahat. Bu Guru mengajari Yoko agar Yoko disiplin. Coba lihat, temannya Yoko ada nggak yang pinter,” tanya Ibu.
“Ada, itu, si Rudi. Dia pinter, nggak pernah dimarahi bu Guru,” jawab Yoko.
“Masak sih, nggak pernah dimarahi. Pasti, waktu Rudi alfa juga ditegur kan sama bu Guru,” selidik Ibu.
Yoko mencoba mengingat-ingat. Dihapusnya air matanya.
“O iya Bu. Waktu Rudi terlambat dan lupa mengerjakan PR juga distrap sama bu Guru,” jawab Yoko.
“Tuh, semua anak kalau tidak disiplin pasti ditegur, kan. Karena Bu Guru sebenarnya sayang kepada muridnya. Bu Guru ingin, muridnya disiplin, dan rajin belajar. Agar murid-muridnya pandai,” jawab Ibu.

Sejak saat itu, Yoko, anak laki-laki berusia sembilan tahun itu, mulai rajin belajar. Dia berusaha untuk selalu disiplin. Menyiapkan bukunya dengan riang, mengerjakan PR nya dengan senang hati. Dan, akhirnya, pada saat naik-naikan kelas, Yoko berhasil masuk lima besar. Bu Guru mengucapkan selamat kepadanya. Yoko pun tersenyum lebar …. Benar kata bu Guru, Rajin Pangkal Pandai.

Posted in Dongeng, Fiksi | Tagged | Leave a comment

Sepatu Trepes tanpa Tali

Masih digenggamnya sepatu trepes tanpa tali di tangannya. Di sisi kiri kanannya, para peri menghiburnya. Tak jua kunjung turun lelah batin yang merasukinya. Teringat Darta yang jauh di sana. Bahkan, ketika Asoka telah berada di sampingnya.

Prompt 37

Ilustrasi: Chacha aka Masya Ruhulessin

Sayap kirinya patah, membuatnya harus bertahan di anak jendela. Mengintip gerimis dalam spektrum warna. Merah, kuning, hijau, nila. Perlahan, didekapnya sepatu trepes tanpa tali itu. Hanya sebelah. Menghiris luka hingga ke relung jiwa,
“Aku ingin bertemu Ayuning. Aku harus bilang padanya, jika aku tidak mencintai Darta,” ucapnya pelan.
“Artinya, engkau membohongi dirimu sendiri, Oriko,” jawab Asoka sambil menatapnya lembut.
“Demi Darta. Meskipun aku mencintainya, tapi tidak mungkin memilikinya. Darta mencintai Ayuning. Bukan aku,” kalimat demi kalimat mulai meluncur dari bibir manisnya.
“Tetapi, Bunda Peri melarangmu turun ke bumi lagi, Orikoku sayang,” jawab Asoka. Mendekap tubuh mungil Oriko dengan penuh kasih.
“Asoka, aku harus ke sana. Aku tidak ingin Darta menderita. Dia sangat mencintai Ayuning,” rengek Oriko. Tetapi, Asoka tidak melepaskan dekapannya. Oriko harus tetap berada dalam pelukannya. Hingga akhirnya, Asoka mulai melemah, dan melemah.
“Hai, Asoka! Apa yang terjadi denganmu?” ujar Oriko panik, saat melihat Asoka mulai merenggangkan peluknya dan terjatuh di lantai. Tanpa sempat dia menahannya.
“Asoka! Asoka!” teriaknya menggoyang-goyang tubuh Asoka. Tetapi, Asoka tidak juga membuka matanya. Bibirnya yang merah merekah memudar, memasi serupa putih kulitnya. “Ah, ternyata kau sangat tampan sekali, Asoka. Tetapi, mengapa selama ini tak juga aku memalingkan hatiku padamu,” bisiknya dalam hati.

“Tolooonggg,” jerit suaranya menggema ke seluruh istana peri. Mengguncang tangga pelangi yang memudar oleh derasnya hujan. Gemuruh petir turut menyemarakkan hari. Mengantar Asoka ke alam keabadian.

***

“O Tuhan,” rintih Oriko. “Mengapa selama ini aku tidak melihatmu, Asoka. Membiarkanmu dalam luka. Andai kau jujur bilang padaku, siapa yang telah menemukan sepatu ini, pasti aku tidak perlu berlari ke bumi. Mengejar cinta dan membuat luka, luka di hati Ayuning, Darta, dan luka di hatimu …”
Digenggamnya sepatu trepes tanpa tali di tangannya. Kini sepatu itu telah utuh kembali menjadi pasangan seperti semula. Sayang, hatinya kini tinggal separuh. Entah di mana lagi dia bisa menjadikannya utuh kembali.

Kekerasan kepalanya telah membuatnya tidak mau mendengar suara siapa pun. Ketidakyakinannya pada Asoka, telah membuatnya mengabaikan sapu tangan putih yang menutup sepatu trepesnya di bawah bunga tasbih.

Nanar tatapannya, sembab penuh duka dan sesal. Menyesak ke sekujur tubuh hingga jiwanya. Mengintip gerimis di balik spektrum pelangi. Teringat dia akan Asoka, yang telah merelakan hati untuknya. Memendam rasa pilu dan cinta, jauh dalam di relung jiwa. Betapa derita itu mendera Asoka dalam senyum yang selalu diberikan kepadanya. Hingga maut merenggutnya …

Tulisan ini untuk MFF #37

Surabaya, Februari 2014

Posted in Fiksi | Tagged , | 6 Comments