Nafkah Isteri dan Uang Belanja, Is it different?

Ternyata beda ya, kirain keduanya sama nie, dengar penuturan dari Noven:

Awalnya saya sulit untuk membedakan makna kata membelanjai istri dan menafkahi istri, karena bagi saya kedua kata itu sama maknanya, hanya beda pilihan kata dan keluasan maknanya saja. Bagi saya, membelanjai istri dan menafkahi istri sama-sama bermakna memberikan sejumlah uang kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara periodik, sedangkan yang sedikit membedakan bahwa menafkahi itu tidak harus uang tetapi bisa bersifat non materi. Artinya jika kita telah memberikan uang belanja kepada istri kita berarti kita telah memberikan nafkah lahir (materi), itu pemahaman awal saya, mungkin juga pemahaman hampir seluruh para suami.
Tetapi, saya mulai bisa membedakan antara uang belanja dan uang nafkah saat saya melihat anggaran belanja rumah tangga seorang teman. Dari sekian item anggaran yang yang diberikan ke saya, ada satu item anggaran yang menarik bagi saya. Menarik karena hanya item itu yang satu-satunya berbeda dengan item-item dalam anggaran rumah tangga saya dan anggaran rumah tangga pada umumnya, yaitu item “nafkah istri”. Apa bedanya pikir saya saat itu, ternyata menurut temen saya bahwa nafkah istri berarti suami memberikan sebagian hartanya kepada istri untuk dikelola dan digunakan untuk kepentingan pribadi istrinya, sedangkan belanja istri adalah memberikan harta (uang) untuk kebutuhan hidup suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.
Saya mencoba untuk memahami apa yang disampaikan temen saya itu. Akhirnya saya temukan kunci jawaban untuk membedakan antara uang belanja dan uang nafkah, yaitu kemulian wanita. Antara uang belanja dan uang nafkah muncul dua kewajiban berbeda yang harus dilaksanakan seorang suami. Uang belanja adalah kewajiban suami sebagai kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya dengan layak, sedangkan uang nafkah adalah kewajiban suami sebagai seorang lelaki yang qowam untuk menjaga kemualian seorang wanita yang menjadi istrinya.
Dalam uang nafkah itu terkandung kemulian wanita dari seorang istri. Uang nafkah menjadikan istri bukan seorang “pengemis” dihadapan suaminya jika istri ingin memenuhi hajat pribadinya. Uang nafkah adalah hak yang harus diterima seorang istri, dan istri memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan untuk kepentingan pribadinya. Sehingga istri bisa memenuhi kebutuhan pribadinya dengan tetap terjaga kemulian dan kehormatannya tanpa harus “mengemis” dihadapan suami atau harus bekerja keras di luar rumah.
Jadi menurut saya, jika suami hanya memberikan uang belanja bulanan saja maka kewajibannya sebagai suami belum lengkap bahkan cenderung tidak menghargai istrinya, karena memberi uang belanja tanpa uang nafkah seakan menjadikan istri sebagai pembantu rumah tangga kita saja. Oleh karena itu meskipun istri kita bekerja, uang belanja dan uang nafkah tetap harus kita berikan kepada istri kita walaupun sedikit, karena keduanya merupakan hak istri dan kewajiban bagi suami. Jika sekarang para suami hanya masih memberikan uang belanja saja maka harus dilengkapi kewajibannya sebagai seorang suami yang qowam dengan memberikan uang nafkah walaupun sedikit dan meskipun istri kita bekerja. Karena dalam uang nafkah itu ada kemulian seorang wanita yang menjadi istri kita, dan ada ke-qowaman kita sebagai seorang suami dan laki-laki.

About these ads
This entry was posted in Tausiyah. Bookmark the permalink.

33 Responses to Nafkah Isteri dan Uang Belanja, Is it different?

  1. rahma says:

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Setelah baca artikel ustadz yang sangat menyentuh sekali, saya ingin curhat kepada ustadz, Saya adalah wanita 27th baru menikah 2 bulan yg lalu dan alhamdulillah sekarang hamil 1 bulan.

    Saya asli Malang dan Suami saya asli Semarang. Saya bekerja di Malang dan Suami saya bekerja di Semarang. Setelah menikah kita sepakat untuk berpisah sementara tapi setiap 2 minggu sekali suami saya datang ke Malang. Saya tinggal dengan orang tua saya, dan suami saya tinggal bersama orang tua.

    Tapi terkadang saya juga yang datang ke Semarang kalau ada liburan panjang.

    Setelah pernikahan suami saya tidak pernah menafkahi saya secara lahir. Saya tidak bisa meminta kepada suami saya, karena saya pikir saya masih bisa bekerja.

    Setelah saya hamil ini saya membutuhkan tambahan uang untuk periksa ke dokter kandungan, etc.

    Saat ini saya masih bisa bersabar, tapi yang saya herankan suami saya adalah sangat taat beribadah, tapi kenapa dia lupa memberikan nafkah lahir kepada saya.

    Tapi masalah keuangan ini sih bisa saya atasi dengan fasilitas kartu kredit yang saya punya, tapi saya tidak mau ini terjadi terus menerus karena akan berdampak di kemudian hari.

    Menurut ustadz apa yang harus saya lakukan, saat ini saya menikah saya seperti hidup sendiri. Saya masih sayang sama suami saya dan saya ingin berbakti kepada suami saya.

    Terima kasih sebelumnya atas nasihatnya.

    Wassalamu’alaikum wr. Wb

  2. Noven says:

    Menurut saya yang mesti anda lakukan adalah :
    1. mengingatkan suami akan kewajiban yang harus diembannya sebagai suami untuk memberikan nafkah kepada istri secara ma’ruf sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an, apalagi suami anda menurut anda orang yang taat beribadah, maka orang yang taat beribadah pasti insyaallah akan taat kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah, mungkin yang harus diingat adalah cara kita dalam mengkomunikasikan, mungkin bisa diajak dengan cara berdialog/berdiskusi tentang masalah nafkah tadi, komunikasikan hal-hal yang menjadi masalah dalam hati anda dengan cara yang ma’ruf dan achsan
    2. sebenarnya ada satu masalah besar yang harus anda berdua pecahkan yaitu sampai kapan anda akan hidup berpisah seperti sekarang ini…? karena kondisi anda yang hidup berpisah itu merupakan suatu kondisi yang darurat, maka kewajiban kita adalah berusaha untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut. Karena yang dikatakan sebuah keluarga adalah terdiri dari anggota inti yaitu suami, istri, dan anak, jika salah satu terpisah maka itu belum bisa dikatakan sebagai keluarga yang sempurna. Karena itu anda perlu segera mendiskusikan dengan suami sampai kapan kondisi darurat dengan hidup berpisah itu akan dijalani?
    3. Saya tidak tahu alasan kenapa anda berdua harus memilih hidup berpisah seperti ini, istri di malang dan suami di semarang, tapi menurut saya untuk memecahkan hal tersebut adalah harus ada yang mengalah sebagai salah satu upaya agar bisa hidup bersama lagi, apalagi anda akan melahirkan seorang anak. Saran saya jika memang memungkinkan anda harus mengalah yaitu lepas saja pekerjaan anda saat ini (berhenti bekerja di malang)dan segera bersatu dengan suami anda yaitu hidup bersama di semarang, toh anda bisa cari pekerjaan di semarang jika memang anda masih berkeinginan dan suami mengijinkan untuk bekerja, kalau pun tidak dapat pekerjaan baru di semarang sebenarnya seorang istri tidak wajib untuk bekerja mencari nafkah. Insyaallah dengan anda hidup bersama maka masalah akan sedikit terpecahkan, karena salah satu sumber masalah anda adalah hidup berpisah tersebut sehingga proses komunikasi dan proses untuk belajar bertanggung jawab sebagai suami dan istri belum bisa dilaksanakan secara sempurna, anda harus yakin bahwa sesulit apapun kondisi kita jika kita lalui bersama suami maka akan terasa lebih mudah dan ringan
    Wallahu’alam bisshowab, semoga membantu atas masalahnya….

  3. alhusna says:

    Jazakumullah khoiron katsiiron Ustadz Noven. Akhirnya ustadz Noven berkenan singgah di sini dan memberikan tanggapan pada permasalahan mBak Rahma. Semoga ini semua akan memberikan manfaat bagi kita semua. Soalnya ternyata banyak hal yang selama ini terjadi pada diri wanita dalam rumah tangga tanpa ada pemahaman yang tepat. Perlu ada pencerahan ustadz……agar semua menjadi lebih jels dan terang benderang serta tidak ada lagi ketimpangan ….

  4. noven says:

    Wa iyyakum, afhwan sebelumnya saya jarang mengupdate blog saya karena kesibukan yang ada, jadi mungkin respon saya atas masalah mbak Rahma agak terlambat, tetapi semoga bermanfaat meskipun terlambat. Dan terima kasih untuk Alhusna yang telah menyebarkan tulisan saya, dan saya bersyukur jika ada banyak manfaatnya. Memang latar belakang saya menulis tulisan tersebut untuk mendudukan presepsi yang salah dari para suami tentang nafkah keluarga yang sering mencampuradukan antara uang nafkah dan belanja, juga ingin menyadarkan kepada para istri bahwa mereka punya hak yang telah di atur oleh Allah dan punya kewajiban utama sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya yang sering kali mereka tinggalkan karena terlalu sibuk mencari uang padahal tugas itu hanyalah tugas sampingan bukan tugas utama seorang istri. Tulisan itu juga sebagai bahan saya juga untuk belajar menjadi suami yang lebih baik bagi istri saya, kita saling belajar dan mencari hikmah atas segala aturan dan perintah Allah yang sangat indah jika kita tepat dalam mengaplikasikannya dengan pemahaman yang benar.

  5. alhusna says:

    Alhamdulillah… semoga melalui tulisan-tulisan akan membawa pencerahan….
    Iya ustadz, tapi ya begitu. Para suami juga banyak yang istilahnya ‘kejawen’ ya. jadi menikmati posisinya tersebut dengan nyaman. Bahkan kadang secara salah kaprah memperbandingkan antara isterinya dengan isteri Rosulullah, mulai dari SIti KHodijah yang siap membantu suami dengan harta, Siti Aisyah yang cerdas, dan seterusnya. Jadi kadang suami sendiri belum menyadari akan hal hak dalam kepemilikan harta dan siroh nabawiyah tersebut.
    Nah, si isteri sendiri juga dengan ‘keqonaahannya’ akan menerima semua perlakuan suami :)
    O iya, sebelum saya buka blog ini, saya pernah menuliskan mengenai hal ini di blog lain di sini
    http://na-alhusna.blogspot.com/search/label/Qolb%27s%20Travelling%20(Senyum%20doong). Karena kegemasan saya dengan permasalahan semacam ini sebenarnya sudah lama, tapi ga bisa ngomong sama siapa….
    Secara tidak sadar telah ada kedholiman kan…. tapi apakah karena kekurangfahaman suami mengenai masalah tersebut maka perlakuannya pada keluarga (anak dan isteri) juga dapat dihukumi sebagai kedholiman. Tapi ya begitu, ketika diingiatkan ‘hanya oleh seorang isteri’ maka pada umumnya suami tidak mau menyetujui, karena dianggap sebagai aturan baru. Kan kebanyakan di Jawa, Bali da mayoritas di Indonesia memang posisi laki-laki dan wanita seperti itu …jadi apa yang belum benar itu seolah telah membumi dan membenarkan posisi.

  6. Rahma says:

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Terima kasih banyak ustadz atas masukan yang diberikan kepada saya, dan alhamdulillah setelah lebaran kemarin memberikan nafkah lahir kepada saya. Itupun tanpa saya mengingatkan beliau.

    Alasan untuk tinggal berpisah sementara dengan suami saya ini sudah merupakan kesepakatan kita berdua. Karena saya masih ada tanggungan pekerjaan di Malang, karena di perusahan ini posisi saya sebagai sekretaris perusahaan yang masih punya banyak sekali tanggung jawab untuk diselesaikan. Selain itu kondisi saya sekarang sedang hamil 3 bulan. Jadi saya harus bertahan di Malang dulu…
    Bukan hanya ustadz yang mengajukan pertanyaan sampai kapan saya dan suami mesti tinggal berpisah…
    Teman-teman terdekat saya juga menanyakannya. Saya berniat insya Allah setelah kelahiran anak saya saya akan mencari kerja di Semarang dan berhenti bekerja di Malang dan tinggal bersama suami saya.
    Memang kewajiban istri bukanlah mencari nafkah, tapi suami saya selalu mendukung saya berkarir.

    Selain itu saat ini suami saya sedang mengalami krisi keuangan, karena ayah mertua saya sudah tidak bekerja lagi. Jadi sebagai anak, saya dan suami juga harus membantunya.

    Terima kasih ustadz atas nasihat yang diberikan, dalam menjalani hidup sendiri di Malang ini saya berdoa semoga saya dan suami selalu bisa memegang kepercayaan dan amanah sebagai suami & istri meskipun kita hidup berjauhan dan hanya bertemu 2minggu sekali.

    Wassalamu’alaikum..

  7. Dewi Maya says:

    Assalamu’alaikum..

    Saya sudah menikah sudah berjalan 5 tahun lebih.. Dan belum dipercaya mendapatkan momongan. Dari lulus kuliah saya sudah langsung bekerja di Jawa Tengah. Menikah dengan suami yang baru bekerja dan merintis karier di Jakarta. (Suami adik kelas 2 tahun dibawah angkatan saya). Usia selisih 18 bulan lebih tua saya.

    Selama 6 bulan, suami ke Jawa Tengah setiap 2 minggu sekali. Saya kasihan melihat suami mondar mandir dan mencoba untuk berhenti bekerja. Tapi perusahaan tidak mengijinkannya dan memberikan waktu untuk beristirahat 2 bulan dan berpikir. Selama itu saya tidak pernah diberikan nafkah materi. (Karena penghasilan saya memang lebih tinggi sehingga saya tidak terlalu menuntut)
    Saat diboyong ke Jakarta, saat itulah saya diberi pegangan 1 kartu ATMnya untuk belanja. Saya langsung ditempatkan di rumah mertua. Dimana, saya yang tidak terbiasa dengan pekerjaan Rumah Tangga menjadi salah tingkah dan sensitif.
    Akhirnya suami mengijinkan saya kembali bekerja dengan sistem 2 minggu di Jakarta dan 2 minggu di Jawa Tengah. Berlangsung 1,5 tahun ternyata suami mendapatkan rejeki berlebih dan punya WIL. Dan berpikiran untuk poligami. Akhirnya suami menyesalinya. Karena WIL tersebut meneror keluarga.
    Tahun berjalan, saya ditugaskan di Luar Jawa. Karena rasa sakit hati yang masih saya rasakan dan ada persetujuan dari suami (karena perusahaannya kolaps). Alhamdulillah awal tahun sudah diberi kepercayaan untuk membesarkan 1 orang anak dan Akhirnya 1 bulan terakhir kemarin suami mau pindah keluar Jawa. Saat ini sedang mencari pekerjaan baru lagi.

    Dari awal bekerja dan punya rejeki lebih sampai akhirnya pengangguran, suami tidak pernah merasa berkewajiban memberikan nafkah kepada saya secara materi, dengan alasan saya sudah punya uang sendiri. Dia prioritaskan membantu orangtuanya (tanpa berunding dengan saya), dan tidak pernah terpikirkan untuk membantu orang tua saya. Disaat saya menggunakan uang hasil keringat saya untuk membantu orang tua dan berinvestasi untuk kepentingan bersama. Suami marah dan menyebut saya mentang2.

    Sampai akhirnya kami baru bisa berkumpul bersama 1 bulan terakhir ini. Masalah timbul kembali. Semua pengeluaran mayoritas menjadi tanggungan saya (kecuali rokok). Prioritas pertama anak dan suami. Dan semua pengorbanan dan bakti saya sebagai istri yang telah melayani suaminya dianggapnya suatu kewajiban (tanpa suami pedulikan hak istrinya). Saat saya singgung masalah itu, dia selalu jawab : Aku kan suami punya hak atas istri. Bakti suami adalah pada orang tua baru ke istri, sedangkan bakti istri pada suami baru ke orang tua. Itu dari Al Quran dia bilang. Sementara pengetahuan agama saya memang kurang, sehingga kurang bisa mendebat argumennya. Kadang saya merasa diperlakukan tidak adil ??

    Mohon pencerahannya..

  8. Noven says:

    Assalamu’alaikum
    Mbak Dewi Maya yang dimuliakan Allah, memang cukup rumit hidup ini, kerumitan hidup ini semakin rumit manakala jalan hidup dan tata aturan kehidupan ini tidak kita jalankan sesuai dengan kaidah syariat Allah dan Rasul-Nya. Sebenarnya persoalan Mbak Dewi Maya akan semakin jelas dan mudah jika kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika kita buka Al-Qur’an dan kita telusuri Hadits-hadist secara detail maka tidak akan pernah kita jumpai perintah seorang wanita untuk menafkahi keluarganya, semua ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul semua memikulkan beban nafkah itu pada seorang laki-laki atau suami, karena itu merupakan wujud ke Qowaman seorang laki-laki. Coba direnungkan bersama surat An-Nisa : 34, disitu jelas tentang kewajiban seorang suami untuk menafkahi istri dan keluarganya, di ayat lain dalam Surat An-Nisa pun di jelaskan tentang hak milik laki-laki dan perempuan, sehingga dalam Islam itu tidak pernah mengenal harta gono-gini, karena dalam Islam telah jelas mana harta suami dan mana harta istri. Dalam Al-Qur’an di surat yang lain Allah pun memerintahkan kepada seorang suami untuk menafkahi keluarganya secara ma’ruf, bahkan ada hadist yang mengatakan bahwa jika ada seorang laki-laki yang bekerja sekeras tenaga mulai dari pagi hingga petang sebagai upaya menafkahi kelaurganya maka setiap kelelahan yang diperolehnya merupakan penghapus dosa baginya. Diriwayat yang lain menyebutkan bahwa sahabiah HIndun pernah mengeluhkan kepada Rasulullah tentang betapa pelitnya abu sofyan suaminya sehingga kebutuhan dia dan keluarganya cukup minim padahal abu sofyan memliki harta yang banyak, maka mendengarkan cerita tersebut maka dalam kondsi seorang wanita yang memiliki suami yang pelit (tidak mau menafkahi istri dan keluarganya secara ma’ruf) maka Rasulullah membolehkan/menghalalkan seorang istri mengambil harta suaminya tampa harus ijin suaminya. Para ulama pun sepakat bahwa istri/wanita itu bekerja diluar rumah merupakan suatu kondisi darurat karena dua hal yaitu :
    1. ekonomi keluarga tidak mencukupi
    2. ilmu dan keahliannya diperlukan oleh masyarakat
    Karena kedua kondsi tersebut sifatnya darurat maka tidak bersifat wajib. Jadi jika istri bekerja membantu menghidupi kelaurga maka harta yang diberikan merupakan sedekah kebaikan baginya, tetapi tetap harta yang diperoleh seorang istri dari bekerja menjadi hak pengelolaan istri secara bebas dan merdeka tampa campur tangan suami, selama suami masih menggantungkan diri pada penghasilan istri maka hal tersebut merupakan salah satu penyebab ke-qowamanannya hilang dan itu bukan kondisi yang ideal, maka kondisi tersebut harus merupakan kondisi darurat yang harus segera diatasi. Memang benar kata suami mbak maya bahwa bakti istri itu yang pertama kepada suami baru ke orang tua, tapi maksudnya itu bukan memberikan nafkah pada suami yang utama tetapi maksudnya adalah ketaatan pada suami itu yang utama, masih ingatkah tentang cerita ada seorang wanita yang dipesankan oleh suaminya yang hendak pergi utk tidak meninggalkan rumah tampa seizin suaminya, kemudian setelah suaminya pergi tiba-tiba ada seseorang datang yang mengkabarkan bahwa orang tuanya sakit keras dan meminta dia pulang ke rumah orang tuanya, tapi wanita itu tidak mau pulang lantaran suaminya belum pulang dan dia tidak berani melanggar pesan dari suaminya, sampai akhirnya suaminya datang, kemudian dia meminta izin ke suaminya untuk menjenguk orang tuanya, itu maksud dari perkataan suami mbak maya, sedangkan masalah harta jika itu merupakan hasil usaha sang istri maka suami tidak boleh mencampuri urusan pembelanjaannya bahkan tidak boleh mengambil harta istri tampa ijin istrinya.Begitu pula harta suami setelah kewajiban menafkahi dan membelanjai istrinya telah selesai maka istri pun tidak boleh mencampuri urusan harta suaminya, tetapi selama kewajiban menafkahi istri dan keluarga belum selesai maka harta yang dimiliki suami harus digunakan untuk mencukupi nafkah keluarganya, maksud perkataan suami mbak maya bahwa bakti suami yang pertama ke orang tua maksudnya adalah mentaati perintah orang tua selama kewajiban-kewajiban yang melekat sebaga suami telah selesai dilaksanakan.
    Jadi sebagai solusi awalnya sebaiknya Mbak Maya bermusyawarah dengan suami tentang masalah nafkah keluarga, saran saya dalam kondisi darurat suami masih belum punya pekerjaan maka boleh saja mbak maya tetap bekerja tetapi harus ada perjanjian dan kesepakatan dengan suami mbak maya yaitu sampai kapan mbak maya harus bekerja membantu mencari nafkah. Dan penghasilan yang didapat mbak maya harus disepakati berapa yang disedekahkan untuk keperluan keluarga dan berapa penghasilan suami yang harus digunakan untuk nafkah istri dan pengeluaran sehari-hari. Cuman yang paling penting adalah mbak maya harus bisa membangun kesadaran suami mbak maya akan kewajibannya memberikan nafkah, karena saya kwatir saat nanti suami mbak maya mendapat rizki banyak tetap tidak mau memberi nafkah maka hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan presepsi ttg kwajiban memberikan nafkah, jadi harus diluruskan dulu presepsi dan kesadaran suami mabk maya tentang nafkah itu, dan sebaiknya saat suami udah mapan penghasilannya mungkin lebih baik jika mbak maya segera berhenti bekerja. Sementara itu saran dan masukan dari saya, kurang lebihnya mohon maaf

  9. alhusna says:

    Alhamdulillah… akhirnya Ust Noven membacanya. Sebenarnay saya ingin menyampaikannya, tetapi karena kesibukan, saya belum sempat. Blig ini saja sebulanlebih tidak terupdate sama sekali. ..

  10. katropolitan says:

    Menurut saya yang kurang paham tentang hukum agama, pemberian nafkah untuk istri bukanlah pemuliaan terhadap wanita. Namun adalah bentuk kesetaraan tanggung jawab suami dan istri dalam pengelolaan rumah tangga. Suami mencari income, dan istri mengelolanya, berarti ada ada timbal balik yang menguntungkan bagi keduanya. Nah jika untuk itu istri mendapat nafkah, berarti suamipun juga harus mendapat nafkah dalam artian penyisihan sebagian penghasilan untuk kebutuhannya sendiri.

    (saya juga gak sepakat dengan penganalogian wanita dan pembantu, ketika wanita tidak diberi nafkah oleh suaminya. Karena kita tahu pembantu justru dibayar/dinafkahi oleh majikannya. Kadang owner sebuah perusahaan besar malah tidak dibayar atau dinafkahi, tapi mereka memperoleh bagi hasil dari keuntungan perusahaan yang mereka miliki)

    Namun dalam kondisi yang ada saat ini, dimana belum tentu nafkah keluarga hanya didapat dari suami, dan istripun harus turun serta mencari nafkah untuk keluarganya. Dalam kasus seperti ini, pembagian peran suami istripun tak bisa dibebankan secara strict pada salah satu pihak saja. Pengelolaan rumah tangga sebaiknya dijalankan bersama, dan istilah nafkah dalam hal inipun menjadi lebih relatif.

    Mungkin ini pendapat saya saja. Tq atas ruangnya.

  11. Noven says:

    Mohon maaf saya sedikit meluruskan apa yang menjadi komentar saudara katropolitan, pertama saya sepakat dengan pendapat saudara bahwa ada kesataraan dalam pengelolaan rumah tangga tetapi kesetaraan pengelolaan rumah tangga bukan masalah hubungan timbal balik (mutual benefit)tetapi harus berada dalam konteks syar’i yang menjadi ketetapan Allah dan Rasulnya, karena jika kesetaraan itu dibangun dalam konteks mutual benefit maka yang muncul adalah saling menuntut, kedua saya sepakat dengan realitas yang ada saat ini dengan himpitan ekonomi keluarga yang ada menjadikan wanita terpaksa harus mencari nafkah, cuman yang harus kita ingat bahwa realitas saat ini suami istri bekerja bukanlah sebuah kondisi yang ideal, karena kalau kita perhatikan realitas saat ini banyak istri yang bekerja terbentuk karena pemahaman yang keliru dari para wanita dan para lelaki yang terjebak dengan pemahaman kesetaraan gender. Ada banyak wanita yang berkeinginan untuk bekerja di luar bukan karena himpitan ekonomi tetapi karena gaya hidup, ada seorang wanita yang suaminya berpenghasilan cukup besar tetapi anehnya sang istri tetap ingin bekerja sehingga tugas mendidik anak menjadi terabaikan, kenapa harus bekerja toch suaminya sudah bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya secara berlebih. Jika kita lihat dalam Al-Qur’an dan Hadist, beban menafkahi keluarga smuanya ada di pihak suami/laki-laki, sehingga jika memang suami belum bisa mencukupi secara layak dan istri harus kerja itu dalam kondisi darurat, tetapi realitas sekarang banyak para istri bekerja bukan karena kondisis darurat atau pun untuk kerja sosial mendermakan ilmunya tetapi lebih banyak pada prestise.
    Seringkali jika istri telah bekerja para suami lupa akan kewajiban untuk memberi nafkah, yang ada hanyalah memberi uang belanja, jadi menurut saya beda antara uang belanja dan uang nafkah. Istri bekerja itu hanyalah untuk menutupi uang belanja bukan uang nafkah keluarga, sehingga jangan sampai istri menafkahi suami. Sebab pemberian uang nafkah (bukan uang belanja) dari suami ke istri merupakan bentuk wujud keqowaman lelaki serta penerimaan secara ikhlah istri atas uang nafkah (bukan uang belanja) dari suami merupakan wujud penghormatan suami sebagai pemimpin keluarga
    Mohon maaf jika kurang berkenan….

  12. alhusna says:

    Alhamdulillah, senang sekali jika akhirnya postingan ini dapat menjadi wahana untuk saling berbagi ilmu. Jazakumullah ahsanal jaza untuk semuanya …

  13. esa says:

    Assalamu’alaikum
    Saya sudah menikah selama 7 tahun dan punya 2 anak.Saya bekerja dan saat ini suami sy bekerja diluar jawa pulang tiap 3minggu sekali.Sejak menikah sampai usia pernikahan 5 tahun sy tidak pernah diberi nafkah oleh suami dan semua kebutuhan rumah tangga dibiayai dari gaji saya. Bahkan suami saya menganjurkan sy mengambil hutang di bank untuk membeli tanah dan rumah yang angsuran hutangya harus sy bayar tiap bulan dari gaji saya. Menjelang kelahiran anak kedua sy kan harus cuti 3 bulan tanpa gaji dan sy harus membayar angsuran selama saya cuti, sejak itu saya meminta nafkah dari suami untuk membiayai hidup saya dan membayar angsuran bank selama saya cuti, Alhamdulillah dikasih nafkah.Stelah itu tidak diberi nafkah lagi,sampai saya protes karena dengan tambah anak tentu pengeluaran juga bertambah karena nambah pembantu juga dan gaji saya sudah mepet banget buat memenuhi kebutuhan sebulan bisa dibilang pas aja. Selama ini dari gaji suami tidak diberikan nafkah ke saya tapi ditabung dan kalo sudah terkumpul lalu dibelikan properti tanah dan bangunan,memang sudah banyak properti yang dibeli dari hasil gajinya, suami bilang untuk tabungan masa tua karena suami berencana keluar dari pekerjaanya (karena tidak mau bekerja jauh2an terus dr keluarga).Kadang kalo gaji saya kurang saya minta kepada suami dan dikasih tapi tidak rutin dan saya harus meminta dulu baru dikasih.Saya pingin seperti istri2 yg lain yg diberikan nafkah rutin setiap bulan,tetapi suami bilang kalo saya kan tau penghasilan dia dipakainya juga untuk membeli properti yg merupakan tabungan masa depan. Ustadz apakah saya salah jika menuntut hak saya untuk diberikan nafkah oleh suami? dan apakah tindakan suami saya yg menggunakan uangnya untuk mebeli properti dan hanya memberikan uangnya jika diminta saja sudah benar? Terimkasih ustadz saya tunggu jawabannya

  14. noven says:

    Mbak Esa yang dimuliakan Allah, menurut pendapat saya sikap Mbak Esa untuk menuntut nafkah rutin itu tidak salah, bahkan sebenarnya yang meminta itu bukan Mbak Esa tapi itu adalah perintah Allah dan rasul-Nya, kalau pun Mbak Esa meminta itu merupakan wujud dari usaha Mbak Esa untuk mengingatkan tentang kewajiban sebagai kepala keluarga bagi suami yang harus memberikan nafkah secara layak kepada istri dan keluarganya.
    Tindakan suami untuk menggunakan uangnya untuk membeli properti boleh-boleh saja cuman yang kurang bijak adalah mengabaikan hak-hak yang utama sedangkan membeli properti untuk investasi adalah sesuatu yang bukan utama dan pertama untuk dilakukan. Sebenarnya pada pengelolaan yang benar tentang penghasilan yang pertama harus dipenuhi dulu kewajiban pihak ketiga seperti hutang, baru setelah itu harus dikeluarkan zakat atas harta kita, setelah itu kewajiban memberi nafkah kepada istri dan keluarga, baru kemudian untuk investasi. Jika ditinjau dari prespektif al-maqosid syariah (tujuan syariah) maka harta yang ada pertama untuk hidzul dien yaitu menjaga agama diri dan keluarga, artinya suami harus memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan istri dan keluarganya untuk menjalankan perintah Allah dan Rasulnya, kemudian hizdul nafs yaitu untuk menjaga kehidupan diri, istri, dan keluarga yaitu berupa uang belanja untuk kebutuhan hidup. Stelah itu untuk hidzul aql yaitu menjaga pikiran, maksudnya kebutuhan pendidikan istri dan keluarganya, kemudian hizdul maal yaitu untuk menjaga harta yaitu untuk investasi. Jadi menurut saya sikap suami mbak Esa kurang bijak, sebab sebenarnya dia mampu untuk memberikan nafkah yang layak bagi istri dan keluarganya, kesannya suami Mbak terlalu mementingkan kepentingannya sendiri, karena hanya menumpuk harta untuk diri sendiri sedangkan kewajiban yang asasi menjadi terlupakan. Tapi semoga segala infaq yang Mbak Esa berikan atas gaji yang digunakan untuk menutupi biaya hidup menjadi nilai kebaikan tersendiri bagi Mbak.
    Saran saya yang harus mbak lakukan adalah :
    1. musyawarahkan dengan suami tentang kewajiban dia untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya, setelah itu terpenuhi silakan saja suami mau membelanjakan hartanya untuk apa saja, asal kewajibannya terpenuhi
    2. musyawarahkan untuk kemungkinan mbak Esa berkumpul dengan suami, menurut saya lebih baik ,Mbak esa yang sedikit mengalah untuk meninggalkan pekerjaan saat ini demi bisa berkumpul dengan suami di satu tempat yang sama, jika itu memungkinkan
    3. kalaupun suami ada rencana yang akan mengalah dengan meninggalkan pekerjaannya saat ini untuk bisa berkumpul kembali maka harus disepakati time limit yang diperlukan untuk mempersiapkan itu semua, artinya harus ada ukuran yang jelas sampai kapan suami Mbak Esa tadi menghabiskan uangnya untuk investasi dengan alasan untuk persiapan meninggalkan pekerjaan saat ini ? dan sampai berapa banyak invetsasi yang akan dilakukan ? jadi semua harus jelas dan terukur supaya kondisi Mbak Esa tidak menggantung, karena saya kwatir dalam diri suami Mbak Esa ada perasaan menyepelekan kewajiban untuk menafkahi istri yang gara-garanya istri sudah bekerja. Walaupun istri tidak bekerja dan punya harta banyak tetap suami harus memberikan nafkah kepada istri.
    Mungkin itu jawaban dari saya, semoga bermanfaat, dan mohon maaf jika kurang memuaskan jawabannya
    Wassalamu’alaikum

    • sure me says:

      Assalamuallaikum, sy sudh menikah 9th memiliki 1 org anak, sejak awal menikah kita sudh memiliki hutang banyak akibat dari bpk mertua dan permasalahan rt kami selalu krn persoalan dari bpk mertua yg selalu minta dipenuhi kebutuhannya walau harus berhutang suami selalu bela2in utk hal itu sementara utk kebutuhan anak istri dia cuek n pelit, yg terjadi skrng bpk mertuaku minta uang puluhan jt utk bangun kos2an sementara suami hutang menumpuk n blm bisa membyr, sy cape dgn keadaan ini ustad permasalahan sdh berulang2 dibicarakan dgn suami tetap suami tdk berubah dan selalu mengikuti keinginan bpk mertua….apa salah kalau sy minta cerai krn sy merasa seperti pembantu sj yg hrs mengemis dan meminta2….mohon pencerahañnya. tmakasih. wasalam

  15. NK says:

    saya sekarang baru tau ternyata antara uang belanja dan nafkah itu beda.dan hal inilah yg dijadikan senjata bagi istri saya dalam pengajuan gugatan cerai.saya benar2 bingung menghadapi hal ini.bagaimana saya harus menjelaskan ini semua? karena selama ini istri saya tidak ada maslah dengan hal iniselama 3 tahun saya berumah tangga…tp mslh nafkah ini dijadikan alasan dia untuk minta cerai..pdhl sebenarnya istri saya ada PIL,sehingga mencari senjata(nafkaH) untuk dijadikan alasan gugatannya…mohon pencerahannya…

  16. Vian says:

    Assalamu’alaikum.

    Saya sudah menikah hampir 3 tahun dan masih belum dikaruniai anak. setelah menikah kami pindah keluar kota. Disana saya juga bekerja, walaupun menurut saya penghasilan suami sudah terbilang cukup. Masalahnya suami pernah meminta saya untuk ikut membayar biaya kontrak rumah. Awalnya saya tidak keberatan karana saya fikir suami bermaksud menyisihkan penghasilannya untuk membeli beberapa kebutuhan yang kami perlukan. Tetapi pada kenyataannya setelah beberapa bulan kami masih saja tidak memiliki apa2, seperti tempat tidur, lemari, kulkas, dll karena menurut suami nanti repot karena rumah masih kontrak. Pernah sekali saya ungkapkan keberatan saya untuk ikut membayar biaya kontrak rumah karena gaji yang saya terima memang tidak besar, tapi suami malah menganggap saya tidak mau berbagi beban. Waktu itu saya menjadi kesal dan khilaf. saya membayar separuh dari semua biaya kebutuhan hidup (kontrak rumah, listrik, PAM) dan kebutuhan harian saya cukupi sendiri dan saya tidak memenuhi kewajiban saya mengurusi kebutuhan suami (nencuci pakaian, setrika, dll) tetapi saya tidak berani menolak apabila suami minta dilayani kebutuhan biologisnya walaupun tanpa ikhlas, takut dilaknat. Karena tujuan saya hanya memberi efek jera sebab suami tidak bisa jika sekedar diberitahu secara lisan. Akhirnya suami mengalah. Saya memang tidak pernah bisa menyisihkan pengahasilan saya untuk ditabung, selain karena gaji tidak seberapa, saya mencukupi sendiri kebutuhan saya untuk membeli pakaian, pulsa HP, mengirimi ibu saya yang sudah janda, dan membeli beberapa kebutuhan rumah yang suami tidak mau mencukupinya seperti membeli, piring, gelas, dll. Pada saat suami berencana pindah kembali ke kota asal, saya berhanti kerja lebih awal. Cekcok kembali terjadi saat terbentur biaya untuk mengirim barang2 dan membeli tiket pesawat, suami mengeluh bahwa saya tidak pernah mau meringankan beban dia. Menceramahi saya karena tidak bisa menyimpan uang. Padahal selama ini saya tidak pernah meminta apa2 sama suami, saya tidak pernah diberikan uang saku. Sekarang kami tinggal menumpang pada orang tua saya dan saya masih belum mendapat pekerjaan. Awalnya kami hanya berencana tinggal dirumah orang tua saya hanya beberapa bulan sampai mendapat kontrakan, tapi sudah hampir satu tahun suami tidak mau pindah, sedangkan kami sudah ‘Menggusur’ ibu saya untuk pindah kekamar adik perempuan saya. Saya jadi serba salah dan tidak enak hati dengan saudara saya, karena suami sangat perhitungan, perrnah sekali suami menyangka saya menggunakan uang harian yang dia berikan untuk membali sayur dan lauk yang hanya Rp. 10.000 untuk keperluan saudara saya. Saya sakit hati dan sempat berfikir untuk bercerai, tetapi ibu dan saudara saya masih mengingatkan saya bahwa Allah membenci perceraian. Sekarang suami sering bersikap kasar kepada saya, walau tidak pernah secara fisik. Tidak lama lagi Ibu saya akan menjual ramah dan membagi uangnya kepada anak2nya, saya takut uang itu akan dipakai oleh suami. Sekarang apa yang harus saya lakukan Ustadz? Mohon saran dan masukannya. Terima kasih
    Wassalam,

  17. Inen Ghaza says:

    Assalamualaikum utadz. saya seorang guru yang sudah menjadi pegawai negeri. bearti orang bilang sudah ber-gaji. suami saya juga PNS. yang saya bingungkan ustadz.. sudah setahun ini saya betul2 mendapatkan cobaan yg bgt berat rasanya..dr Allah SWt. yang mana kami dililit hutang. dan hutang itu datang terus terang karena rencana dan persetujuan suami saya. sampai akhirnya skrg gaji saya minus. untuk menutupi hutang2 saya. yg mana suami saya kurg peduli bahkan terkadang lupa. hancur perasaan saya ustadz. saya merasa saya seperti babu. mmg saya ikhlas tetapi. saya juga letih dgn keadaan bgini ustadz. yang ingin saya tanyakan. 1. apakah saya salah minta cerai, dikarenakan saya tdk pernah mendapatkan belanja lagi dr suami selama 8 bulan belakang ini. saya kan punya anak ustadz. butuh biaya sekolah. yang ke 2. saya cari uang dr sore pulang ngajar bahkan sampai pagi mengetik. untuk kebutuhan keluarga. kalau tdk bgitu saya tidak makan dan anak2. apa saya salah. tidak sanggup dengan keadaan ini. dikarenakan suami saya sedikit lambat dan kurang tanggung jawab. atas jawabannya dan solusinya ..saya haturkan ribuan terima kasih ustadz

    • alhusna says:

      Mungkin kita perlu mengingat kembali komitmen awal kita menikah dan menyatakan siap menjadi pasangan suami isteri. Masalah ekonomi saat ini bisa jd merupakan ujian terberat dalam kehidupan pernikahan yang dijalani. Tetapi, Janji Allah itu pasti, bahwa kesabaran itu akan berbuah manis. Dan semua akn menjadi mudah jika Allah telah menghendaki. Meskipun cerai tidak dilarang, tetapi dampak perceraian itu bukan hanya kepada pelaku, tetapi juga kepada anak-anak…. Semoga kesabaran ukhtii akan segera berbuah manis…. Innallaaha ma’as shoobiriin. Menangislah di ujung malam, dan sampaikan permohonan ampun serta permintaan pertolongan padaNYA, mohonlah kekuatan kepadaNYA, karena dengan adanya ujian, maka itu adalah sarana penyempurnaan kehambaan kita…..

  18. Yanti says:

    Pak ustad sya mau nanya apa yg hrus sya lakukan bla suami sya tdk mementingkan nafkah kluarga,sya dan anak2 tdk diberi nafkah karna sya sdah punya wrung kecil2an padahal suami sya seorang pemilik cv yg lagi sukses sya menikah sdah 13 th pak ustad

  19. Mahardika says:

    Assalamualaikum pak ustad….
    Saya sdah 2 tahun 7bulan menikah dengan suami saya. Selama ini kita hidup terpisah,,,,
    saya hidup di mojokerto sebagai seorang guru PNS dan suami sebagai seorang abdi negara di jakarta. Seminggu sekali suami pulang. Selama ini saya tdak begitu mementingkan berapa pun nafkah yang diberikan kepada saya.
    Saya tinggal brsama ibu saya yang janda. Saat ini saya berniat ambil pnjaman bank untuk membeli motor 2, satu untuk ibu saya yang setiap hari untuk jualan satu lagi untuk saya berangkat ngajar. Tpi suami menginginkan motor tersebut datasnamakan satu suami satu lagi saya. Maksud saya dua duanya saya atas namakan saya,karena itu adalah uang pinjaman saya sendiri di bank. Saya begini karena saya mnyayangi suami saya, agar harga diri suami tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Suami saya marah, saya juga jengkel. Menurut ustad saya harus bagaimana…..
    Mohon dijawab ustad karena saya dan suami kurang begitu faham masalah ini secara agama….
    Dan sempat terlintas dpikiran saya untuk mengakhiri semua nya ustad….
    Mohon bimbingannya ustad

  20. ipa fisika says:

    Diskusi yang sangat bermanfaat…
    saya menanti jawaban ustd. Noven menanggapi kasus-kasus yang terakhir…terimakasih…

  21. Buayo Darat says:

    menarik juga permasalahan yang ada, tapi menurut saya aneh juga ya kalau ada suami yang berprilaku seperti itu terhadap istrinya, karena kalau saya justru kebalikannya….semua pendapatan atau penghasilan saya pasti saya berikan kepada istri untuk mengaturnya karena saya tidak pandai mengatur uang, jadi yaaahhh terserah istri saya mau diapain uang itu, Alhamdulillah semua kebutuhan rumah tangga baik itu kebutuhan saya selaku suami, kebutuhan istri dan anak-anak, pokoknya semua deh….istri yang atur, jadi saya tidak perlu pusing2 lagi mikirin itu

  22. sukma says:

    ass. p.ustadz. saya menikah baru 1,5 th n skrg lg hamil 8bln. saya menikah dng seorang duda beranak 1 yang ikut dengan mantan istri suami saya. suami saya seorang PNS n mantan istrinya juga PNS sedangkan saya hanya ibu rumah tangga. Dari gaji suami yang sdh dipotong ini itu bersih suami hanya mendapat gaji 1,2 jt n Setiap bulan suami harus mengirim ke mantan istri 500rb,jadi total uang belanja yang saya terima 700rb. Jujur saya pontang panting mengatur uang itu agar cukup untuk memenuhi segala macam kebutuhan rumah tangga. Suami tidak memberi uang nafkah jadi saya sering mengesampingkan kebutuhan saya sendiri demi terpenuhi kebutuhan rumah tangga. Yang saya jengkel mantan istrinya masih minta belikan kebutuhan anaknya ya susu,minyak telon, buku LKS, mainan dll. Jujur saya merasa iri mantan istrinya kan PNS ada penghasilan apa tidak mau membantu sedikit untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Sedangkan saya tidak bekerja putar otak supaya cukup dan tidak minta tambahan kepada suami.Apalagi sebentar lagi saya akan melahirkan. Dan sepertinya suami lebih sayang sama anak pertamanya apapun permintaannya dituruti karena suami takut kalo nanti besar tidak diakui n dihormati karena perceraiannya. Apa yang harus saya lakukan? adilkah suami membagi gajinya kepada mantan istri? apakah kelak kalo anak saya lahir diperlakukan adil? saya ingin bekerja tapi tidak diizinkan. Brp % seharusny nafkah yang diberikan kepada mantan istri untuk memenuhi kebutuhan anaknya menurut islam?Mohon jawabannya pak ustadz. trima ksh. wassalam

  23. dewi says:

    Assalamualai’kum ustad

    Saya mw tnya,, gmna cara mengungkapkan k suami k’lo dya blum mmberi uang nafkah,, melainkan hanya uang belanja. Sedangkan klo d ungkapkan, takut mnyakiti hati suami

    Mkasi ustad
    Wassalamualaikum Wr.Wb

  24. Almira yuanita says:

    Mau tnya bagaimana apabila seorang suami menafkahi istri materi tapi disaat sedang ada masalah suami mengungkit-ungkit harta yang diberinya,,bagaimana solusi yang terbaik untuk istri apabila istri takut untuk menasehatinya ??

  25. Jika suami kita tdk memberikan uang S̤̈αм̲̅α̲̅ sekali pun malah dia sering sekali meminta kpada istri ªþå hukum nya ?

  26. Melisa says:

    Assalamualikum ustd sy butuh pencerahan. Sy seorg istri dan ibu anak 1 permikahan. Kami br jalan 2th. Awal nikah sy tahunya suami saya pny pkerjaan tetap dan ternyTa tidak, pekerjaannya krn mentita wkt dan tenaga smp dia hes begadang sy tdk setuju. Sy sbg kary swasta msh bs menghidupi kehidupan kmi wlpn kmi jg msh tinggal sm mertua ortu suami. Bln pertama nikah sy tdk merasakan spt istri” lain bs menikmati penghasilan suami dan merawat suami.
    Berjalan wkt kelahiran anak pertama kami di tanggung oleh ortunya dan bs reimburse ke kantor sy. Stlh punya anak kebutuhan meningkat gaji saya tdk cukup jdnya su slalu pinjam uang ke bank ato adek sy. Di thn oni suami su alhamdulillah dpt proyek hingga dia dpt komisi sbln 20jt lbh. Tp sy sbg istri tdk merasakan spenuhnya hasil gajinya alasananya buat bur cicilan mbl dll. Dr 20jt su hnu dikasih skitar 3,4per bln. Pertengkaran trs tjd dan perasaan sex su kpd suami menurun krn dia tdk memnuhi kebutuhuan sy dan sy berasa hiup sendiri. Stoap siami ajak bersetubuh sy suka menolak alasan sy cape. Smp pd puncaknya dia blg enek thdp sy… Bagaana ustad sy hrs gmn spy rasa ini timbul lg…

  27. nuruliie says:

    assalamualaikum

  28. noni says:

    Assalamualaikum ustadz,,
    Saya seorang istri beranak 1,dengan penghasilan suami yg bisa dibilang pas2an sekali,,bahkan kadang seringkali kekurangan krn saat ini banyak biaya yg dikeluarkan untuk cicilan rumah,dan lain sebagainya yg tak terduga,
    Seperti yg diketahui bahwa seorang istri punya kebutuhan pribadi untuk mempercantik diri,tetapi disini suami saya tidak pernah memberikan saya nafkah seperti yg dijelaskan ustad.bahkan saya yg seorang pedagang online dan mempunyai penghasilan sendiri pun tidak diperbolehkan untuk membelanjkan uang yg dengan susah saya tabung untuk membeli hal yang sangat saya inginkan(maklum naluri wanita),walaupun saya sudah izin,jadi bagaimana semestinya yg saya lakukan,agar saya bisa memenuhi kebutuhan saya tanpa harus membuat suami saya marah..

  29. Rahma Tika says:

    ustad, saya wanita, menikah sudah hampir 1 thn dan sudah dikaruniai seorang anak perempuan,dari awal menikah sampai sekarang saya dan suami masih tinggal bersama orang tua suami saya.dan selama itu pula suami saya tidak pernah memberikan uang bulanan atau nafkah kepada saya. mungkin karena saya masih tinggal bersama mertua sehingga suami mungkin berfikir tidak perlu repot memikirkan uang dapur karena mertua saya yang setiap hari belanja untuk urusan dapur dan uangnya dari gaji pensiunan mertua saya.yang saya ingin tanyakan apakah dibenarkan sikap suami yang seperti itu? meskipun saya tidak perlu memikirkan uang dapur tapi setidaknya saya juga punya kebutuhan lain.. aplgi skrg sudah ada anak. dan perlu saya tekankan memang suamu saya tidak bekerja tetap hanya punya usaha warnet dan hasilnya pun tidak menentu. setiap saya minta uang suami selalu berkata tidak ada uang.saya selalu berusaha untuk memahami suami. tapi anehnya setiap orang tuanya meminta uang, suami saya selalu mengupayakan agar dapat mendapatkan uang dan diberikan kepada ibunya.sbenarnya saya ingin sekali bicara kepada suami tentang maslah ini. tapi suami saya setiap saya membicarakan hal2 seperti ini suami selalu diam tidak pernah menimpali ataupun memberikan jawaban kepada saya.saya jadi bingung harus bersikap seperti apa.mohon jawabanya ustadz. trima kasih.

  30. cika says:

    assalamualaikum ustadz. membaca artikel ustadz ini membuat saya langsung menangis dan mengikhlasan apa yang terjadi selama ini. Saya sudah menikah sejak 2tahun lalu. N baru memiliki putri umur 3 bulan. Selama ini suami selalu memberikan uang kebutuhan rumah tangga (kebutuhan dapur, air galon, jajan saat hamil) tiap hari sekali sebelum suami berangkat kantor. Suami saya bekerja di salah satu bank swasta dengan gaji ±3juta/bulan. Tiap hari saya slalu di diberikan uang untuk kebutuhan sehari2 kadang 20rb, kadang 25rb. Begitulah tiap hari. Tapi besoknya kalau mau ngasih lagi slalu nanyain, yang kemarin masih sisa berapa? Kadang kalau sisa 5rb suami cuma nambahin 17000 atau 20rb lagi. Jadi saya tidak bisa menabung dari sisa uang harian itu. Begitu juga kalau ingin beli baju dan jilbab harus minta dan bujuk suami dulu. Kadang langsung di iya kan kadang masih ditangguhkan. Untung saja, sejak saya hamil (sebelum hamil saya masih kerja ngajar dengan gaji ±900rb, tapi 500rb nya untuk cicil motor) buka usaha kecil2an, bisnis online dari produk handmade, bikin bros jilbab dan aksesoris anak. Kadang untuk keperluan beli alat2 kosmetik, pakaian saya pakai uang dari usaha saya ini. Tapi tiap kali ada bonus, suami saya mentransfer uang untuk ibunya dikampung (ibu mertua saya masih muda, ibu mertua juga punya penghasilan sendiri) kadang 1-2 juta. Apa yang harus saya lakukan ustadz, saya sering menangis sendiri. Ingin juga rasanya mengirimkan uang untuk ibu saya dikampung (ibu saya dah tua, ayah saya sudah lumpuh karna kakinya pernah terbakar dan masih memiliki 2 orang adik yang kecil dan remaja/putus sekolah karna tidak ada biaya) dengan uang hasil usaha saya. Apakah saya boleh mengirimkan uang dari hasil usaha saya tanpa sepengetahuan suami saya? Saya bisa masak (bisa dibilang pintar masak karna orang padang harus bisa masak) jadinya suami tidak senang makan diluar, kadang saya pengen cxx beli makan diluar saat saya capek untuk masak, apakah boleh cxx saya tidak menuruti kemauan suami untuk masak ustadz. Saya mencintai suami saya karna beliau tidak pernah lupa sholat, slalu puasa senin kamis, sering sholat dhuha dan tidak merokok. Begitu juga dari fisik dan wajahnya, cakep dan tampan. Apa yang harus saya lakukan ustadz?

  31. muslimah says:

    Maaf terputus,. Suami saya penghasilannya bisa dibilang lebih dari cukup,. Suami berpenghasilan kurang lebih hampir 100jt perbulannya,. Suami saya wiraswasta,. Suami memberi saya uang belanja buat keluarga 5jt perbulan dan saya dibayarkan asuransi 2jt perbulan. Yang ingin saya tanyakan bagaimana nafkah yang adil bagi istri yang mempunyai penghasilan yang besar?

    Suami saya selalu mengatakan bahwa dia sudah menafkahi saya sesuai dg kebutuhan saya dan keluarga. Memang uang belanja yg diberi suami selalu cukup dan kadang ada sedikit lebihnya buat saya. Tapi saya bingung kadang cemburu jg dengan penghasilan suami yg begitu besar bahkan sepersepuluhnya saja saya tidak diberi. Lalu apakah lebih uang belanja itu yang dimaksud nafkah dr suami saya? Sudah benarkah suami saya dalam menafkahi saya dan keluarga? Mohon pencerahannya ustad, agar saya dan suami jd lebih paham hukum agama. Bagaimana cara menyikapi perasaan saya yg merasa suami belum adil dalam menafkahi saya. Benarkah nafkah itu sesuai kebutuhan istri saja, tidak dinilai dari penghasilan suami? Jika penghasilan suami meningkat dan kebutuhan istri masih tetap segitu, apakah wajar suami tetap memberi nafkah dg jumlah yg sama? Terima kasih ustad, mohon direply dan penjelasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s