Di Satu Sudut Kota Surabaya

sadPrima kembali menarik lengan Ridho agar Ridho bersedia kembali duduk. Tetapi Ridho sudah terlanjur kesal. Mukanya bersungut-sungut sambil membelakangi Prima.
“Ridho, nama kamu saja Ali Ridho, tapi kenapa sih hati kamu gak bisa ridho padaku dan Agung,” Prima berkata setengah menjerit. Air matanyaa mengalir di pipinya yang kotor akibat terjerembab di rerumputan di Kebun Bibit Manyar yang masih lengang. Prima terjerembab ke rerumputan, karena mengejar Ridho yang berlari meninggalkannya sambil marah-marah. Pagi itu, mereka memang berjanji untuk membicarakan hubungan keduanya yang selama ini dijalin secara backstreet.
Ridho menyentakkan tangan kanannya yang dipegang oleh Prima.
“Kamu juga, gara-gara nama kamu Prima, kamu selalu memberi pelayanan prima pada semua laki-laki. Aku muak sama kamu,” teriak Ridho sambil memandang muka Prima dengan marah.
“Demi keamanan kamu dan aku, biarkan dong aku jalan bareng Agung. Lagipula aku bukan wanita rusak seperti yang kamu kira”
“Aku sudah pernah bilang sama kamu, kalau kamu ngianati aku, wes[1] gak bakal ada orang yang boleh dapetin kamu.”
“Tolonglah Ridho, biarkan aku jalan bareng sama Agung dulu, aku kan nggak ngianatin kamu. Dia itu yang bikin aku merasa aman dan tetap bisa sekolah. Dia yang mau nerima aku apa adanya dan menyelamatkan hidupku.”
“Apa? Menyelamatkan?,” kembali Ridho menghina Prima.
Nek wes dasare rusak yo rusak koyok kowe,[2]” lanjut Ridho sambil menunjukkan jarinya ke muka Prima. “Diajak apik kok ora gelem.[3]
“Ya sudah, kalo kamu sudah gak percaya lagi sama aku, aku ya ndak apa-apa. Tapi tolong, walaupun aku sudah rusak, jangan ditambah jadi rusak.” Prima merendah.
Keduanya kemudian saling diam. Angin semillir di Senin pagi mengajak rambut Prima menari-nari. Namun semilir angin pagi itu tidak mampu membuat hati Prima menjadi tenang dan sejuk. Semilir angin pagi yang sejuk pun tidak mamppu menyejukkan hati Ridho yang sudah terlanjur panas. Dan, deru kota Surabaya mulai menggeliat dari arah jalan Manyar. Kendaraan pun mulai meramaikan suasana di area kebun bibit Manyar.
Kedua orang itu masih terdiam. Tiba-tiba terdengar suara berat nafas Ridho. Pemuda 17 tahun yang putus sekolah sewaktu di SMA itu hengkang dari kampung halamannya di desa Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Ketiadaan biaya sekolah menjadikan Ridho harus memutuskan untuk berhenti sekolah, karena malu dengan teman-teman akibat tidak bisa membeli sepatu, buku, dan seragam yang layak. Apalagi Ridho juga telah mengerti bekerja dan menghasilkan uang sebagai kenek angkutan desa. Ibunya yang telah menjanda harus membanting tulang menghidupi Ridho dan kedua adiknya, Laila dan Syakri.
Ibu Ridho menjanda setelah diceraikan oleh Ayah Ridho pada saat Ridho duduk di kelas tiga SMP. Saat itu, ayahnya memutuskan untuk menceraikan ibunya dan menikah lagi dengan seorang janda dari kampung sebelah. Janda itu adalah buruh tani yang juga sering bekerja bersama ibu Ridho di kampung sebagai buruh harian. Ridho masih ingat bahwa hubungan antara ibu dengan janda itu sangat baik. Bahkan janda itu sering menginap di rumah, agar keesokan harinya bisa berengkat bekerja ke sawah lebih pagi. Jika harus pulang ke kampung sebelah, maka akan membutuhkan waktu lama untuk berjalan menuju kampung di mana Ridho tinggal. Tapi dengan teganya janda itu menusuk ibunya dari belakang dan justru menjadi selingkuhan ayahnya.
Saat itu Ridho sangat geram dan sangat membenci keduanya. Hingga akhirnya ayahnya diusirnya dari rumah. Ridho masih ingat sekali dengan wajah ibunya yang sembab setiap hari, terutama di pagi hari. Sebagai seorang anak yang mulai menginjak remaja, Ridho memahami perasaan ibunya yang sudah pasti campur aduk, antarra benci, dendam, dan cinta.
Tapi yang jelas, Ridho kagum dengan Ibunya. Ibunya mempertahankan dia dan adik-adiknya untuk tetap tinggal di rumah kayu peninggalan nenek. Meskipun ayah Ridho sempat menawarkan kepada ibunya untuk berbagi tanggung jawab dengan mengajak Syakri dan Laila. Ayah tidak menawarkan Ridho untuk tinggal bersama isteri barunya, karena ayah tahu kalau Ridho sangat benci kepada mereka.
Selulusnya dari SMP dengan nilai Ujian Akhir Nasional  yang pas-pasan, Ridho tidak bisa masuk ke SMA Negeri. Akhirnya, Ridho masuk ke SMA Modern di desa tetangga. Sekolah di sekolah swasta membutuhkan banyak uang, mulai dari pendaftaran, buku, seragam, dan lain-lain.  Untuk biaya pendaftaran, Ibu menjual kambing milik Syakri yang telah dipelihara Syakri sejak Syakri kelas empat SD. Pada saat itu, Ridho sebenarnya malu, karena harus menjual kambing adiknya. Ridho menjadi menyesal, mengapa tidak setekun Syakri.
Tetapi, kebutuhan sekolah bukan hanya pada kebutuhan pendaftaran. Buku dan seragam, serta SPP juga harus dibayar. Untuk menjual kambing Syakri lagi itu tidak mungkin. Akhirnya Ibu menjual kalung Laila. Kalung itu peninggalan nenek. Sebenarnya berat juga, dan juga kasihan Laila. Tetapi ibu harus melakukannya, karena uang hasil menjadi buruh di sawah hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Hingga akhirnya, Ridho mencoba menjadi kenek mobil angkutan desa yang mengangkut penumpang ke pasar di Kecamatan Laren. Pekerjaan ini memang lumayan membantu, karena selain disimpan, Ridho bisa memberi uang tambahan belanja untuk ibu. Tapi Ridho harus mengorbankan sekolahnya. Akibat kelelahan bekerja sebagai kenek yang harus membantu mengangkut barang-barang penumpang, Ridho sering mengantuk di kelas dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Hal ini berlangsung sampai pada semester akhir kelas X.
Pada saat ini, Ridho benar-benar telah sampai pada puncak kekesalannya. Dia banyak ketinggalan pelajaran dan merasa badannya sangat lelah untuk tetap sekolah. Ridho juga telah merasakah enaknya mencari uang. Dia bisa memegang uang sendiri dan membeli apa yang ingin dibeli. Hingga suatu saat, Ridho ditawari kerja di Surabaya oleh Soni Tengil. Menurut Soni Tengil yang waktu itu berpenampilan mentereng, deengan menbawa HP yang bisa digunakan untuk memotret dan merekam video, serta internetan, kerja di Surabaya itu enak. Tinggal duduk-duduk saja sambil menunggui stand, pelanggan akan datang sendiri. Dan hasilnya lumayan besar, bisa dipakai untuk beli HP yang canggih seperti yang dibawa oleh Soni. Sepatu Soni juga bagus. Jaket dan celana jean yang dipakai juga membuat Ridho menjadi kepingin[4].
Mak, aku melu Cak[5] Son menyang Suroboyo yo,[6]” pamit Ridho pada suatu malam.
La opo toh Cung, wis ning omah wae karo mak e. Njur sekolahmu piye no. Eman, wedhus e Syakri wis di dhol kae. Kalung e Laila yo wis kathut.[7]” Ujar ibu sambil menjahit baju seragam Syakri yang lepas kancingnya.
Suroboyo cidek ae lo Mak, mengko lek aku wis oleh duwit yo tak kirimno mulih.[8]
Yo ora ngono to Cung. Sekolahmu iku lo sing eman.[9]
Aku mengko sekolah ning Suroboyo ae Mak. Jare Cak Son aku iso kerjo karo sekolah.[10]
Ibu menghela nafas panjang dan berdiri ke arah dapur. Ridho berlari ke dapur dan kembali  memohon kepada ibu agar ibu mengijinkannya untuk ke Surabaya bersama dengan Soni Tengil. Setelah menghiba-hiba, ibu pun luluh dan mengijinkan Ridho ikut Soni Tengil.
Ati-ati yo Cung. Ojo lali sholat e dijogo. Sing jujur, lurus, andhap asor, sabar. Ojo grusa-grusu. Wani tirakat lan prihatin. Ati-ati ning negorone uwong yo. Sing pinter njogo awak e lan atine.[11]” Itu adalah nasihat ibu saat Ridho naik ke sepeda motor yang mengantar Ridho dan Soni ke terminal.
Sesampai di Surabaya, Ridho diajak ke daerah Banyu Urip Kidul dan dikenalkan dengan Cak Pri. Ternyata Soni Tengil tinggal di rumah Cak Pri, pendatang dari Magetan. Soni Tengil sendiri berpamitan untuk bekerja di wilayah Benowo. Artinya, Ridho akan tinggal di rumah Cak Pri sendirian. Memang di rumah Cak Pri sudah ada dua orang yang tinggal, yaitu Supeno dan Aripin. Tapi Ridho yang baru mengenal Surabaya merasa asing tinggal di rumah Cak Pri yang selalu penuh dengan asap rokok Supeno. Ya, menurut Soni, meskipun sudah sering diingatkan untuk tidak merokok,Supeno terlanjur jadi perokok berat dan bahkan pecandu Narkoba. Wih, Ridho jadi agak bergidik jika harus bersama Supeno, orang yang terlihat lembek dan lemah itu ternyata pecandu Narkoba.
Tapi kehadiran Aripin yang meskipun perokok, tapi masih terlihat lebih baik dan sering mengajak berbicara membuat Ridho sedikit terhibur setelah ditinggal Soni ke Benowo.
Kesokan pagi, Cak Pri mulai membicarakan pekerjaan Ridho. Pekerjaan yang ditawarkan Cak Pri adalah menjaga warnet di kawasan Jarak dan Pasar Kembang Surabaya. Pekerjaannya ringan, hanya menjaga warnet dan menunggu kaset-kaset yang dijual. Gaji yang diberikan juga lumayan besar bila dibandingkan dengan menjadi kenek angkutan desa yang upahnya tergantung belas kasih sopir.
Pada saat menerima gaji di bulan pertama, tangan Ridho gemetar karena girang bisa menerima uang sebesar itu. Ya, memang enak tinggal dan bekerja bersama Cak Pri. Tempat tinggal dan makan gratis, terima gaji lagi.
Yang mengherankan Ridho adalah hadirnya gadis-gadis cantik di rumah Cak Pri. Ada sekitar lima atau enam gadis sebaya Ridho yang sering ke rumah Cak Pri. Mereka terlihat akrab dengan Cak Pri. Hingga suatu saat Ridho mengenal Prima, seorang gadis yang menurut Ridho sangat cantik dibandingkan dengan gadis lainnya. Usianya juga sekitar 17 tahun. Artinya mereka sebaya. Saat itu, Prima berpakaian seragam SMA dan terlihat ada tanda kelas XI di lengan kanannya. Artinya, Prima memang sebaya dengan dia dan saat ini baru naik kelas ke kelas XI. Ridho jadi ingat untuk kembali ke sekolah. Tapi tentu saja tidak sekarang. Ridho harus menunggu tahun ajaran baru, karena harus mengumpulkan uang dulu.
Ridho senang memperhatikan Prima. Rambutnya yang lurus panjang sepinggang dikuncir kuda. Ada poni tipis di dahinya yang putih, bibirnya yang merekah dan selalu tersenyum saat berbicara membuat Ridho berdesir darah mudanya. Apalagi, suara Prima yang mendayu manja, seolah ingin digoda membuat Ridho juga berbunga-bunga jika berada di dekatnya. Tapi Ridho juga bertanya-tanya, setiap kali datang, Prima selalu menyetorkan uang kepada Cak Pri dan selanjutnya Cak Pri akan memberi Prima amplop dan kembali Prima membawa pulang CD dari Cak Pri.
Menurut Aripin, CD itu adalah CD film bokep yang akan dijual para gadis itu ke teman-teman  mereka. Bahkan ada di antara mereka yang berani menjual ke para mahasiswa yang umumnya tinggal di kos-kosan. Ridho mengelus dada dan menyayangkan hal itu. Ridho juga menjadi benci dengan Cak Pri. Terlebih, menurut Aripin, bukan hanya CD nya yang dijual, tetapi para gadis itu juga menyediakan diri mereka untuk mendampingi pembeli CD menonton CD tersebut dan memberi pelayanan lebih.
Ridho menjadi bergidik. Tidak sabar, Ridho menelpon Soni dan meminta untuk pindah kerja. Tetapi dari seberang, Soni terdengar tertawa keras tanpa menghiraukan permintaan Ridho untuk pindah bekerja ke tempat Soni.
Semalaman Ridho tidak bisa memicingkan mata. Hingga dia mendengar suara ribut di luar, saat jarum jam masih menunjuk pukul lima pagi. Dari dalam kamar, Ridho mendengar suara gaduh dan suara mengaduh di ruang tamu. Itu adalah suara Aripin dan Cak Pri. Setengah mengintip dari lubang kunci, Cak Pri yang gagah dan tegap memegang kerah kaos bergaris yang dipakai Aripin.
“Ampun Cak, saya juga kasihan kalau Ridho harus seperti saya. Cukup saya saja yang jadi korban di sini. Jangan yang lain.”
“Korban? Korban katamu.”
“Kalau kamu tidak kutolong dari kejaran polisi waktu razia pengamen itu, kamu sudah dibuang entah di mana. TAHU.” Terdengar suara Cak Pri meninggi.
“Iya, Cak. Tapi Ridho itu masih polos. Biarkan dia pergi dari sini Cak”.
“Kamu kan tahu sendiri, bahwa begitu orang menginjakkan kaki di rumahku, maka ia harus nurut padaku.”
Melihat adegan pagi itu, Ridho kembali berpikir, sebenarnya apa yang salah dengan pekerjaannya. Dia hanya menjaga warnet dan menjual CD yang dipajang di ruang depan. Tidak lebih. CD yang dijual juga bukan CD bokep sebagaimana yang diceritakan oleh Aripin semalam. Kembali Ridho masuk ke dalam sarung dan pura-pura tidur, yang mungkin akhirnya tertidur beneran. Sampai samar-samar terdengar suara Cak Pri membangunkannya.
Ayo tangi Cah ngganteng, wis jam wolu, gek di buka warnet e,[12]” suara Cak Pri terdengar ramah. Ridho kaget dan segera bangun dengan cepat.
Ngapuro Cak, krinan,[13]” ujarnya sambil masih duduk di tempat duduk.
Ora opo-opo. Gek adhus, ndang sarapan. Ditunggu Prima kae. Dhino iki Prima ngancani awakmu njogo warnet. Si Ripin ben istirahat dhisik,[14]” Cak Pri berujar seraya keluar dari kamar sempit dengan satu tempat tidur itu. Ridho memandang ke sekitar kamarnya yang kumuh, Lemari kecil di pojok dan kasur kumal yang harus dilipat jika tidak dipakai untuk tidur agar kamar terlihat lebih luas.
Segera setelah mandi dan sarapan Ridho beranjak menuju warnet di seberang jalan. Terlihat para ibu di daerah Banyu Urip Kidul berangkat ke pasar Jarak. Ternyata Prima telah membuka warnetnya. Hari Minggu memang warnet harus dibuka agak pagi, karena anak-anak sekolah libur. Pantas saja, Prima juga ikut menjaga warnet, karena hari itu dia tidak sekolah.
Menunggu warnet bersama Prima hari ini adalah pegalaman pertama Ridho. Ridho senang sekali dan melupakan peristiwa dini hari tadi. Prima banyak bercerita tentang pengalamannya selama bekerja di tempat Cak Pri. Ternyata Prima adalah anak Kuningan[15] yang dibawa oleh Ayu, teman sekampungnya untuk bekerja di tempat Cak Pri. Prima beruntung bekerja di tempat Cak Pri, karena selain bekerja, Prima juga disekolahkan oleh Cak Pri. Sambil sekolah, Prima menjual CD ke teman-temannya dan juga kepada kakak kelas. Prima bahkan menjual CD kepada mahasiswa yang dikenalnya.
Di tempat Cak Pri, Prima benar-benar menjadi primadona. Dari Prima, Ridho mengerti bisnis Cak Pri, ternyata selain membuka warnet, Cak Pri menjual XCD bokep dan di dalam CD itu diselipkan sabu-sabu atau narkoba lain. Mengetahui itu, Ridho diam-diam bermaksud untuk pergi dari tempat Cak Pri. Tentu Ridho ingin mengajak Prima, karena diam-diam pula Ridho menyukai Prima. Tetapi Prima menolak untuk diajak pergi, karena Prima telah berjanji pada Agung, pacarnya, untuk tetap bekerja di tempat Cak Pri. Agung adalah keponakan Cak Pri yang tengah kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya.
Meskipun Agung adalah keponakan Cak Pri, tapi Agung tidak ikut bekerja di tempat Cak Pri. Agung justru melindungi Prima agar Prima tidak dijual sebagaimana para gadis lain yang dibawa oleh Ayu dari Kuningan. Oleh karena itu, meskipun Prima tidak mencintai Agung, tetapi demi keamanannya, Prima tetap bersedia berpacaran dengan Agung.
Sepengetahuan Prima, bukan hanya Ayu yang menjadi pengepul gadis-gadis dari luar kota untuk di bawa ke Surabaya, ada mbak Tami dan mbak Fitra yang memiliki wilayah sendiri-sendiri. Mbak Fitra mengumpulkan gadis-gadis SMA dari wilayah Sidoarjo, Malang, Pasuruan, dan Blitar, serta Tulungagung dan Lumajang. Mbak Tami yang sudah separuh baya mengumpulkan gadis-gadis dalam kota Surabaya.
Karena Agung telah melindungi Prima dari penjualan para gadis itu, Prima merasa berhutang budi kepada Agung. Apalagi Cak Pri tidak akan pernah melepas orang yang telah masuk ke sarangnya, termasuk Ridho dan Prima. Jika sampai ada yang mencoba melepaskan diri dari tempat tersebut, maka nasibnya akan seperti Aripin, yang sejak peristiwa dini hari itu tidak lagi pernah kelihatan batang hidungnya.
Ridho kembali berhitung. Setelah tiga bulan bekerja di tempat Cak Pri dan jatuh cinta dengan Prima, Ridho merasa berada dalam posisi yang sulit. Seperti makan buah simalakama. Jika melepaskan diri dari tempat Cak Pri, dia akan kehilangan Prima, dan bisa jadi kehilangan nyawa. Tapi jika tetap berada di tempat Cak Pri, hatinya sangat tidak tenang dengan pekerjaan yang dijalaninya. Ridho  teringat dengan kata-kata ibunya untuk selalu menjaga diri dan hati. Tapi di tempat yang seperti ini, Ridho seakan terjebak. Ridho tidak bisa bergerak. Tapi, tidak mungkin ia menceritakan posisinya kepada ibu, karena Ridho tidak ingin menyusahkan ibu. Ridho juga tidak mungkin meminta Soni untuk melepaskannya dari tempat ini, karena jika Ridho melarikan diri dari tempat Cak Pri, maka Soni akan dikejar Cak Pri untuk menangkap Ridho. Dan jika tidak bisa menangkap Ridho, maka Soni akan mendatangi rumah ibunya.
Di sisi lain, sebagai remaja yang tengah jatuh cinta, Ridho tidak ingin melihat Prima tetap berhubungan dengan Agung. Sementara bagi Prima, jika sampai putus dengan Agung, maka tidak ada lagi yang melindunginya dari Cak Pri. Cak Pri akan menjadikannya gadis SMA yang menjajakan diri demi memenuhi kebutuhan sekolah. Untuk pulang ke kampunya di Kuningan pun sudah tidak mungkin. Ayu akan kembali mengejarnya dan mengajaknya kembali ke Surabaya. Karena Ayu telah mengancam akan memberitahu kepada orang sekampungnya mengenai pekerjaannya di Surabaya. Jika hal ini dilakukan, maka hancurlah hati ibu Prima dan Bapaknya yang tengah sakit-sakitan akan semakin parah sakitnya.
Kembali Ridho menghela nafas. Di sampingnya Prima juga terdiam sambil sesekali menghela nafas. Wajahnya yang sayu makin terlihat ayu. Meskipun matanya sembab, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Matahari semakin meninggi. Kebun bibit Manyar mulai ramai dikunjungi pengunjung yang ingin melepas penat di tengah hiruk pikuk kota Surabaya…..dan di ujung pintu masuk, terlihat Agung memperhatikan kedua remaja itu dengan pandangan iba.

Catatan:   Sebulan setelah kejadian itu, Cak Pri tertangkap bersama Soni Tengil, Ayu, Fitra, dan Tami, serta seluruh komplotannya. Agung yang melaporkan pamannya sendiri kepada Polisi. Agung pula yang memberi kesaksian mengenai Prima dan Ridho, serta para gadis yang bekerja di tempat Cak Pri sebagai korban. Para korban ini dibawa ke  dinas sosial dan kemudian diarahkan ke lembaga pembinaan dan pelatihan.


[1] Bahasa Jawa, artinya ‘ya sudah’
[2] Bahasa Jawa, artinya ‘Kalau sudah dasarnya rusak ya tetap rusak seperi kamu’
[3] Bahasa Jawa, artinya ‘Diajak baik kok tidak mau’
[4] Bahasa Jawa, artinya ‘ingin’
[5] Cak = bahasa Jawa, artinya Mas (panggilan untuk orang laki-laki yang lebih tua, kakak)
[6] Bahasa Jawa, artinya ‘Ibu, aku ikut Mas Soni pergi ke Surabaya ya’
[7] Bahasa Jawa, artinya ‘Untuk apa tonak, sudah di rumah saja bersama ibu. Terus sekolah kamu bagaimana. Sayang, kambingnya Syakri sudah dijual. Kalungnya Laila juga sudah terjual pula’
[8] Bahasa Jawa, artinya ‘Surabaya kan deket Bu, nanti kalau aku sudah mendapatkan uang, uangnya saya kirimkan ke rumah’
[9] Bahasa Jawa, artinya ‘Ya nggak begitu Nak. Sekolah kamu itu lo yang disayangkan’
[10] Bahasa Jawa, artinya ‘ Aku nanti sekolah di Surabaya saja BU. Katanya Mas Soni aku bisa bekeja sambil sekolah’
[11] Bahasa Jawa, artinya ‘Hati-hati ya Nak. Jangan lupa sholatnya dijaga. Jadi orang jujur,lurus, rendah hati, sabar. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Berani sengsara dan tetap berusaha. Hati-hati di tempat orang. Pandai-pandai menjaga diri dan hati’
[12] Bahasa Jawa, artinya ‘Ayo bangun anak tampan, sudah jam delapan, segera dibuka warnetnya’
[13] Bahasa Jawa, artinya ‘Maaf Mas, kesiangan’
[14] Bahasa Jawa, artinya ‘Tidak apa-apa. Segera mandi, kemudian sarapan. Sudah ditunggu sama Prima. Hari ini Prima yang menemani kamu menjaga warnet. Aripin biar istirahat dulu’
[15] Salah satu lokasi di daerah Cirebon, Jawa Barat.
Surabaya, Juli 2012
Gambar: dari re-downloads.com
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Satu Sudut Kota Surabaya

  1. Pakde Cholik says:

    Wah ambil setting di Surabaya ya nduk
    Kebun bibit dekat rumahku tuh
    Silahkan mampir kalau ke Surabaya
    Salam hangat dari Galaxy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s