Cerita Sebelum Sekolah – Cita-cita Lima Bersaudara

Jika biasanya kita memberi cerita kepada anak sebelum tidur dengan dongeng sebelum tidur, maka pagi ini saya harus bercerita sesudah bangun tidur. Ya, pagi ini dik Nana 5 tahun) tiba-tiba ‘nggondok’ dan tidak mau berangkat ke sekolah. Dia diam saja di tempat tidurnya dan tidak mau segera beranjak. Karena tidak bisa dirayu, maka kutinggalkan saja dia di tempat tidurnya.

Saat kutengok lagi, dia malah menikmati cemilan kacang telor yang ditemukannya di meja di dekatnya. Awalnya aku akan mnggunakan cara yang tegas agar dia segera mau mandi. Tetapi aku segera mengurungkannya dan justru ikut berbaring di debelahnya. Terlintas dalam benakku untuk memberikan cerita yang bisa membuatnya beranjak ke kamar mandi dan berangkat ke sekolah. Nah, ini cerita singkatku untuk dik Nana pagi ini.

Di sebuah desa, tinggallah lima bersaudara:

  1. Anak pertama: laki-laki, bernama Badrun
  2. Anak kedua: laki-laki, bernama Badri
  3. Anak ketiga: perempuan, bernama Giyem
  4. Anak keempat: perempuan, bernama Ropiah
  5. Anak kelima: perempuan, bernama Tini

Nah, kelima anak tersebut tinggal di desa Permai bersama kedua orangtuanya. Desa Permai adalah desa yang tenang dan damai. Sawah masih menghijau, pepohonan segar dan rindang, serta sungai mengalirkan air yang jernih. Ikan-ikan pun berenang riang di sungai tersebut. Diiringi kicauan burung yang riang dan tarian ranting pohon yang dihembus angin.

Sebagai anak desa, kelima anak tersebut adalah anak yang rajin membantu ayah dan ibu, baik di sawah maupun di rumah. Setiap hari kelimanya membantu kakek di sawah untuk menanam padi, singkong, kacang panjang, pepaya, dan lain-lain. Tanah di sawah yang subur menjadikan setiap tanaman bisa dengan mudah tumbuh. 

Suatu malam, sebelum tidur, ayah mengajak kelima anak-anak itu berbincang-bincang,

“Anak-anak, kalian anak yang rajin-rajin, pasti kalian memiliki cita-cita kelak jika sudah besar”, ujar ayah.

“Pasti ayah, kami ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan desa kita,” Badrun menjawab.

“Apa cita-citamu Badrun?”

“Jika aku besar nanti, aku ingin menjadi dokter,” jawab Badrun dengan tegas.

“Kalau aku besar nanti, aku ingin jadi Guru,” Badri tidak mau kalah.

“Aku jadi bidan saja deh, biar bisa menolong orang yang melahirkan,” Giyem juga menjawab sambil tersenyum.

Kalau aku jadi pengusaha saja, biar bisa membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang menganggur,” Ropiah juga memberi jawaban dengan tegas.

Ayah masih menungu jawaban dari Tini, si bungsu, yang tidak juga memberi jawaban.

“Kalau Tini, besok kalau sudah besar bercita-cita jadi apa?” tanya ayah.

Tini diam saja, lalu menjawab,

“Aku tidak mau jadi apa-apa ayah, akau pingin begini saja. Aku tidak mau sekolah,” Jawabnya.

Ayah tersenyum,

“Anak-anak, kalian harus rajin belajar ya, sekolah itu adalah jalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dan kita akan bisa berguna bagi orang lain jika kita memiliki ilmu. Apa pun ilmu itu, yang penting ilmu yang baik ya. Jadi kalian harus rajin sekolah ya, termasuk Tini, ya,” Ujar ayah sambil mengusap kepala Tini.

Tini mengangguk.

Dan, kelimanya pun segera tidur.

Seperti biasa, pada pagi hari kelima anak-anak itu bangun tidur dan bersiap-siap ke sekolah, kecuali Tini. Ibu masih harus membujuk dan merayu agar Tini mau sekolah. Tetapi Tini sulit sekali untuk diajak ke sekolah. Dia akan marah, menangis, dan merajuk.

Hingga akhirnya, Tini benar-benar tidak mau bersekolah. Tini hanya tinggal di rumah dan menunggu kakak-kakaknya pulang sekolah, untuk kemudian bermain bersama dan membantu kedua orangtua mereka bersama kakak-kakaknya.

Pada saat mereka sudah dewasa, Badrun pun menjadi dokter, Badri menjadi guru, Giyem menjadi bidan, dan Ropiah menjadi pengusaha, sedangkan Tini tetap tinggal di desa.

Badrun mendapat rumah dinas, mobil dinas, dan gaji yang besar dari rumah sakit tempat dia bekerja.

Badri juga mendapatkan rumah dinas, mobil dinas, serta gaji yang besar dari sekolah tepat dia mengajar.

Giyem juga mendapat rumah dinas, mobil dinas, dan gaji yang besar dari klinik tempat dia mengabdikan diri. Bahkan Giyem menjadi pemilik saham bagi klinik melahirkan tersebut.

Ropiah membuka usaha yang besar, yang mampu mempekerjakan orang banyak. Dari usaha yang ditekuninya, Ropiah bisa membeli rumah, mobil, dan tpendapatan usaha yang besar.

Keempat kakak Tini hidup bahagia dan sejahtera bersama keluarga masing-masing.

Jika hari libur, keempatnya pulang ke desa mengunjungi Tini yang masih tinggal di desa. Karena Tini tidak memiliki ketrampilan dan tidak memiliki ilmu pengetahuan, Tini hanya bisa tinggal di desa sendirian.

Jika dia tidak memiliki uang, dia akan menjual tanah milik orangtuanya. Hingga akhirnya rumah yang ditinggali pun harus dijual. Akhirnya, Tini tidak memiliki apa pun. Kakak-kakaknya iba terhadap Tini dan ingin menolong Tini. Tetapi lama kelamaan Tini merasa malu kepada kakak-kakaknya dan akhirnya diapun pergi dari desa. Tini menjadi gelandangan di kota.

Nah, setelah mendengar cerita itu, Dik Nana pun beranjak dan ngeloyor ke kamar mandi, sambil berujar,

“Aku mau sekolah, aku mau jadi guru,”

Hehehe… ternyata cerita bisa lebih manjur daripada harus dengan pemaksaan.

About these ads
This entry was posted in Dongeng and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cerita Sebelum Sekolah – Cita-cita Lima Bersaudara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s