Dongeng dan Doa Bercermin

Kemarin, sepulang sekolah, dik Nana membawa catatan dari guru TPQ nya tentang doa bercermin.
“Ma, tulisanku jelek, ya,” katanya.
“Enggak kok, buktinya Mama bisa baca tulisan dik Nana,” jawabku.
Dengan tulisannya yang mengalir seperti air jatuh di lereng gunung, kubacakan doa bercermin tersebut dan dia menirukannya.

1780879_10203107452070134_547212801_nEsok pagi, dia bangun pagi sekali. Yang dia ingat adalah pesan dari gurunya untuk menghafal doa bercermin.
“Ma, aku belum hafal. Aku nggak masuk sekolah ya,” ujarnya. Seperti biasa, aku tidak langsung menjawab. Aku hanya memandanginya dan mendekatinya.
“Kan hanya sedikit, dik,” jawabku. Lalu kubacakan doa bercermin.
“Tuh, Mama saja hafal, kan. Padahal, Mama kan baru baca tulisan dik Nana kemarin.”
“Iya, tapi aku belum bisa,” jawabnya merajuk. Waduh, kalau sudah begini, harus pakai cara.
Satu per satu, keempat kakaknya sudah siap-siap berangkat sekolah.  Hmm … Kuingat cara jitu waktu dia ngambek, membuat dongeng.
Kupangku dia, dan kukumpulkan ide.

***
Di sebuah desa, di Lamongan, ada lima orang anak kecil yang suka bermain bersama. Yang satu, anaknya gendut, bernama Kamaa; yang kedua, anaknya agak tinggi, namanya Hassanta; yang ketiga, paling tinggi, namanya Kholqii; yang keempat, anaknya manis sekali, namanya Fahassin; dan yang kelima, paling kecil, namanya Khuluqii.

Pada suatu hari, kelimanya sedang bermain bersama. Tiba-tiba, ada seekor monyet yang berlari terengah-engah dari timur desa.
“Ada apa Monyet, kok berlari-lari,” tanya Kamaa.
“Temanku dikejar anjing ke Barat, terus sepertinya tadi belok ke arah Goa di selatan desa,” Monyet menjelaskan sambil ketakutan.
“Wah, kita harus menolong temannya Monyet ini,” jawab Hassanta.
“Iya, tetapi mau nggak, yang lain, Fahassin, Khuluqii,” jawab Kholqii sambil melihat ke arah Fahassin dan Khuluqii. Fahassin mengangguk-angguk.
“Boleh, biarpun aku kecil, aku pemberani, lo,” jawab Khuluqii.
Akhirnya mereka berlari ke arah Barat dan kemudian belok ke kiri, ke arah Goa di Selatan Desa. Sambil berlari, kelima anak itu berteriak berulang-ulang.
“Allaahumma Kamaa Hassanta Kholqii Fahassin Khuluqii,”

“Ma, sudah, kok nggak sampai-sampai,” ujar dik Nana padaku,
“Iya, ayo, makanya ikutin Mama, ya. Kan goanya memang jauh. Waktu itu, kita kan naik mobil ke sananya. La, ini mereka berlari, ya lama lah,” jawabku. Dik Nana pun mengikutiku memeragakan kelima jari tanganku menjadi kelima anak-anak dalam cerita dan membaca doa bercermin.
Setelah terlihat hafal, ceritanya pun kulanjutkan.
“Nah, akhirnya, mereka pun sampai di Goa,” kataku.

“Lo, Monyet, mana teman kamu. Kok nggak ada, katanya lari ke arah sini,” ujar Kamaa.
“Iya, ya. Anjingnya pun tidak ada,” jawab Hassanta.
Kholqii, Fahassin, dan Khuluqii, menoleh ke kiri, ke kanan, ke atas … Dan ternyata, teman si Monyet sudah di atas pohon sambil makan buah jambu monyet …

Cerita selesai.
“Mudah kan, doa bercerminnya,”
Dan, tinggal dia sendiri yang belum mandi. Kakak-kakaknya sudah bersiap-siap untuk sarapan.
Dia segera mandi …

Aside | This entry was posted in Dongeng, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s