Apakah Harta Isteri Otomatis Jadi Harta Bersama dengan Suami?

Jawaban dari Ustadz Ahmad Sarwat, Lc

Bismillahirrahmaanirrahiim

Hampir semua umat Islam yang kami kenal, telah salah kaprah dalam pengelolaan harta bersama antara suami dan isteri. Padahal terdapat perbedaan yang amat mendasar antara sistem kepemilikan harta dalam perkawinan di barat yang sekuler dan anti agama, dengan sistem kepemilikan harta dalam pernikahan dalam Islam.

Di barat, suami dan isteri dipaksa untuk menjadi satu kesatuan baik dalam jiwa maupun dalam harta. Harta pribadi milik suami, otomatis menjadi harta bersama yang juga dimiliki oleh isteri. Demikian juga dengan harta pribadi isteri, begitu pernikahan berlangsung, secara otomatis harta itu menjadi milik bersama dan suami ikut menjadi pemiliknya. Sedangkan dalam sistem Islam, pola penggabungan harta itu tidak terjadi. Setiap orang tetap menjadi pemilik sah atas hartanya, meski dia menikah dengan pasangan hidupnya. Harta pribadi milik suami tidak lantas otomatis menjadi harta milik bersama ketika dia menikahi isterinya. Dan harta pribadi milik isteri, juga tidak lantas menjadi harta milik bersama dengan isterinya.

Kesimpulannya, harta suami milik suami dan harta isteri milik isteri. Meski pun keduanya tinggal satu atap, satu kamar dan satu tempat tidur. Pada akhirnya, jelas sekali bahwa sistem kepemilikan harta di barat itu sangat merugikan dan tidak adil. Bayangkan, misalnya ada seorang wanita lajang kaya raya dengan harta puluhan milyar, kemudian dia menikah dengan seorang laki-laki pengangguran tanpa harta. Bagaimana mungkin tiba-tiba uang milik wanita itu tiba-tiba jadi harta bersama milik mereka berdua? Lebih apes lagi kalau tiba-tiba keduanya bercerai, masak separuh dari harta milik wanita itu berpindah kepemilikan? Enak banget si lelaki pengangguran itu.

Karena ketidak-adilan sistem inilah, barangkali, banyak orang di barat sana tidak mau berkomitmen. Mereka khawatir kalau sampai terjadi pernikahan, bisa-bisa harta mereka lenyap seketika. Maka kumpul kebo jadi marak, karena lebih aman dan tidak merugikan secara finansial.

Anehnya, sistem sekuler gaya orang kafir di barat itulah yang malah banyak diterapkan oleh bangsa kita yang muslim. Entah pengaruh dari mana, yang jelas penyebab utamanya adalah pudarnya sistem pengajaran syariah Islam di tengah umat. Sejak dijajah barat selama 3, 5 abad, hingga kita merdeka puluhan tahun, terus terang saja, ternyata kita sudah sangat dijauhkan dari akar-akar syariah Islam.

Sehingga bangsa ini sudah menjadikan sistem kafir itu seolah bagian dari hidup mereka, bahkan sudah mendarah daging. Giliran ada pengajian yang membahas masalah sistem kepemilikan harta antara suami dan isteri, banyak anggota pengajian yang terperanjat. Sebab ternyata sistem dari barat itu masih saja mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan tidak ada seorang pun yang mengingatkan.

Hutang Antara Suami Isteri

Dalam sistem pernikahan Islam, hubungan antara suami isteri secara finansial tidak ada bedanya dengan hubungan antar individu lainnya. Kalau ada hutang, maka tetap wajib dilunasi. Kalau pinjam tetap harus bayar.

Bedanya, seorang suami punya kewajiban memberi nafkah kepada isterinya, bahkan meski isterinya lebih kaya. Kecuali bila isteri melepaskan haknya, sehingga suaminya dibebaskan dari kewajiban membayar nafkah, itu lain cerita.

Wallahu a’lam bishshawab,

Dikutip dari: eramuslim

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Tausiyah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s