Selandia Baru

Selandia baru merupakan sebuah negara kepulauan di barat daya Samudra Pasifik di tenggara Australia. Negara ini terdiri dari dua pulau besar (Pulau Utara dan Pulau Selatan) dan beberapa pulau kecil lainnya. Selandia Baru adalah negara demokrasi parlementer dan sebuah wilayah Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm). Nama Selandia Baru diambil dari provinsi Zeeland di Belanda. Nama ini diberikan oleh Albert Tasman seorang penjelajah dari Belanda. Selandia Baru bertanggung jawab atas negara pemerintah-sendiri Kepulauan Cook dan Niue serta mengatur Tokelau dan Dependensi Ross. Selandia Baru memiliki populasi sekitar 4 juta. Sekitar 80% dari populasinya adalah keturunan Eropa. Suku Maori adalah grup etnik kedua terbesar (14,7%). Sekitar 1996 dan 2001, jumlah orang Asia (6,6%) melewati jumlah orang Kepulauan Pasifik (6,5%).

Selandia Baru ditemukan pertama kali oleh orang Polynesia pada abad 950 Masehi dan orang-orang Eropa mulai tinggal di sana pada sekitar tahun 1800. Selandia Baru sekarang adalah perpaduan antara budaya Maori, Polynesia, Asia dan Pakeha. Orang-orang Selandia Baru, atau biasa disebut “Kiwis”, dikenal dengan keramahannya, pecinta alam, pecinta petualangan, kreatif dan pantang menyerah.

Kristen adalah agama dominan di Selandia Baru, meskipun hampir 40% populasinya tidak memiliki agama. Denominasi utama Kristen adalah Anglikan, Presbiteranian, Katolik Roma, dan Methodist. Ada juga sejumlah orang yang menyebut mereka Gereja Pantekosta dan Baptis dan juga Mormon. Gereja Ratana yang berbasis di Selandia Baru memiliki banyak pengikut di antara orang Maori. Menurut hasil sensus, agama minoritas lain termasuk Hindu, Budha, dan Islam.

Sebagai negara persemakmuran Inggris, masyarakat Selandia Baru lebih mendekatkan budayanya dengan budaya Inggris dan mengidentifikasikan dirinya dengan negara Inggris. Apalagi ukuran kepulauan Selandia Baru juga hampir sama dengan ukuran keseluruhan kepulauan negara Inggris. Demikian juga dengan iklim negara Selandia Baru yang tidak banyak berbeda dari iklim di negara Inggris. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, terutama bahasa Inggris Selatan, karena pemukim awal yang membangun koloni di Selandia Baru pada tahun 1840-an memang semuanya berbahasa Inggris, terutama golongan menengah dan populasi pekerja yang terutama berasal dari daerah pedesaan Inggris dan Skotlandia. Banyak pemikiran pendidikan dan hampir semua materi bacaan yang digunakan berasal dari Inggris.

Meskipun Lokasi Selandia Baru berdekatan dengan negara Australia dan terletak di satu benua, namun masyarakat Selandia Baru menganggap orang Australia berasal dari keturunan yang berbeda dari masyarakat Selandia baru. Demikian juga dengan pandangan masyarakat Selandia Baru terhadap orang Amerika. Masyarakat Selandia Baru menganggap bahwa keturunan Selandia Baru merupakan masyarakat yang santai dan berbudaya, serta memperlakukan wanita secara sensitif. Sebaliknya, masyarakat Selandia baru beranggapan bahwa orang-orang Australia adalah orang yang besar mulut, kurang ajar, sombong, suka menyela pembicaraan orang lain, dan suka berbicara secara berpasang-pasangan.

Walaupun terdapat pandangan negatif terhadap orang Australia, dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonominya, orang Selandia Baru melakukan Emigrasi ke Australia dalam jumlah yang agak banyak, karena kurangnya lapangan kerja di Selandia Baru. Dalam hal ini sisi positif yang disukai oleh orang Selandia Baru terhadap Australia adalah bagian pedalaman Australia yang terbuka lebar dan adanya kehangatan di musim dingin, kota-kota kosmopolitan di Australia, kesempatan berbelanja, masyarakat Australia yang tidak mengenal golongan, ramah, dan suka menolong. Orang-orang Australia suka menolong terhadap orang Selandia Baru, terutama jika orang Selandai Baru tengah berada dalam kesulitan. Meskipun demikian, sisi positif ini juga kadang rusak dan orang Selandia Baru tidak pernah mau mengakui bahwa rusaknya hubungan yang terjadi adalah akibat ulah orang Selandia Baru.

Sebagai negara yang dikenal msnyukai petualangan, banyak orang Selandia Baru yang melakukan perjalanan ke Eropa dan terutama ke Inggris satu atau dua kali dalam rentang kehidupannya. Meskipun demikian, jika liburan tiba, maka orientasi tujuan perjalanan adalah di Australia dan Kepulauan Pasifik (Tonga, Fiji, Pulau Cook).

Di balik keramahan orang Maori sebenarnya tetap tersimpan perasaan yang menyakitkan dalam diri orang Maori, yaitu merasa telah dieksploitasi dengan kejam pada masa lalu dan sudah saatnya untuk melakukan penebusan atas kekejaman di masa lalu tersebut, yaitu dengan menjadi trendsetter di Selandia Baru. Dalam hal ini terbukti dari sikap masyarakat kulit putih yang meskipun menjadi penduduk dengan jumlah mayoritas, tetapi cenderung berperilaku seperti orang Maori ketika sedang berpesta atau melaksanakan festival (festival olah raga, festival budaya, dan lain-lain).

Sebagai penduduk asli di Selandia Baru, orang Maori menganggap bahwa warga Selandia baru yang berkulit putih adalah pendatang atau tamu di negara Selandia baru, sehingga kebijakan Maori harus menjadi kebijakan yang utama di Selandia Baru. Bahkan, dalam kehidupan interkultural yang terbentuk antara masyarakat pendatang dengan masyarakat asli, yaitu Maori, maka masyarakat Maori merupakan masyarakat yang banyak mempengaruhi budaya kehidupan di Selandia pada umumnya yang ditunjukkan dari adanya kemauan dari masyarakat pendatang dalam berpesta dan menyanyikan lagu Maori yang menggunakan bahasa Maori (walaupun, tidak mampu mengucapkan bahasa Maori dengan tepat) serta menarikan tarian tradisional Maori.

Hubungan yang terjadi antara penduduk asli di Selandia Baru, yaitu Maori dengan pendatang yang mayoritas dari Eropa, tersebut menunjukkan bahwa di dalam hubungan tersebut telah terjadi communication accommodation dan intercultural adaptation. Dalam hal ini, masyarakat pendatang dapat melakukan penyesuaian diri dan penyesuaian budaya dengan tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, dan terbentuklah hubungan antara kelompok budaya asli dan budaya pendatang (co-cultural). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa telah terjadi anxiety management yang terdapat pada masing-masing kelompok budaya. Hal serupa terjadi pada hubungan antara orang Selandia Baru secara keseluruhan dengan penduduk Australia, di mana meskipun orang Selandia Baru memiliki pandangan negatif terhadap orang Australia, dan sebaliknya, orang Australia juga memandang orang Selandia Baru sebagai masyarakat pinggiran, namun sebagai tetangga maka keduanya tetap dapat saling berhubungan dan saling menolong.

Reference:

Richard D Lewis, Komunikasi Bisnis Lintas Budaya

Tim Penerjemah:

Ketua: Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A.

Anggota: Nanan Kandagasari, Gumbirasari, Jan Budhi M.P.

Editor: Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A.

Penerbit: PT Remaja Rosda Karya, Bandung, Cetakan Kedua, Oktober 2005.

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Simple Journey. Bookmark the permalink.

2 Responses to Selandia Baru

  1. sisca says:

    plis , give me some infoz about study or working in NZ…i really interest about this country..i’m from indonesia…

    wanna visit there, stay there n know more about NZ…NZ’s my drim country…huhuuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s