Klarifikasi Kasus melalui Media Massa

Di dalam menyampaikan sebuah pernyataan sebuah kasus berikut penyelesaiannya di media masa maka perusahaan dituntut untuk memperhatikan bagaimana respon masyarakat atas terjadinya peristiwa tersebut dan penyelesaian direncanakan guna memperbaiki keadaan. Hal ini karena masyarakat yang membaca terdiri atas konsumen, calon konsumen, investor, pesaing, calon pesaing, dan lain-lain, yang memiliki karakteristik masing-masing dalam menerima suatu pemberitaan di media massa. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk memaparkan respon atas sebuah peristiwa yang berkaitan dengan perusahaan maka perusahaan harus menyadari tingkat kompleksitas permasalahan dalam lingkungan organisasional. Tingkat kompleksitas permasalahan dalam lingkungan organisasional meliputi:

  1. Richness – Leanness of Resources. Jika di dalam lingkungan perusahaan memiliki sumberdaya yang semakin banyak maka kesempatan yang dimiliki oleh perusahaan juga semakin banyak. Meskipun demikian, hal yang perlu juga diingat adalah bahwa jika di dalam lingkungan perusahaan tersebut semakin kaya sumberdaya maka kompetisi juga semakin ketat, karena semakin banyak perusahaan yang akan tumbuh di lingkungan tersebut.
  2. Homogeneity – Heterogeneity. Semakin banyak tingkat keberbedaan yang ada dalam lingkungan perusahaan (baik berbeda sosial, ekonomi, dan individual) maka semakin besar kebutuhan perusahaan untuk melakukan inovasi, adaptasi, dan pengendalian atas lingkungan tersebut.
  3. Stability – Instability. Semakin tinggi tingkat perubahan dalam lingkungan perusahaan maka semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk melakukan upaya untuk mengatasi adanya perubahan tersebut, seperti melalui penyesuaian-penyesuaian dengan perubahan tersebut.
  4. Consentration – Dispersion. Semakin banyak konsumen dan supplier yang tersebar di berbagai lokasi, maka semakin besar pula tingkat kebutuhan perusahaan dalam mengeksploitasi dan mengeksplorasi sumberdayanya.
  5. Consensus – Dissensus. Semakin besar tingkat pertentangan yang terjadi antara di dalam kelompok masyarakat maka tingkat fleksibilitas yang dimiliki oleh perusahaan juga harus semakin besar agar dapat mengatasi sistem yang terjadi dalam lingkungan tersebut, sehingga lingkungan akan dapat menerima keberadaan perusahaan.
  6. Turbulence. Perusahaan harus mampu menghadapi kondisi lingkungan yang terus bergolak dan harus mampu mengatasi perubahan yang kadang tidak dapat diprediksi terlebih dhulu atau bahkan tidak sesuai dengan prediksi yang sebelumnya telah ditentukan.

Melihat tingkat kompleksitas lingkungan organisasional dewasa ini maka perusahaan berada pada lingkungan yang kaya akan sumberdaya potensial baik sumberdaya manusia (yang dapat dijadikan sebagai konsumen, tenaga kerja, dan investor) dan sumber daya alam. Dengan demikian peluang akan adanya perusahaan baru yang sejenis juga semakin besar, di mana hal ini akan meningkatkan persaingan. Demikian pula dengan tingkat heterogenitas masyarakat juga menuntut kejelian perusahaan dalam menggaet konsumen dan investor. Apalagi dengan tingkat instabilitas lingkungan usaha yang dipicu oleh derasnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut perusahaan untuk mampu mengikuti perkembangan tersebut agar tetap dapat diterima oleh masyarakat.

Hal lain lagi yang patut diperhatikan adalah bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga konsumen dan investor yang dilayani berada di berbagai wilayah dengan karakteristik yang berbda-beda sehingga perusahaan dituntut untuk mampu mengeksploitasi sumberdayanya agar dapat memberikan pelayanan kepada semua pihak yang berkaitan dengan perusahaan. Ditambah lagi dengan adanya gejolak politik dan kerusuhan yang dilatarbelakangi SARA diberbagai daerah, maka perusahaan dituntut untuk tetap fleksibel agar mampu diterima oleh semua pihak yang berseteru tersebut. Adanya peristiwa politik akhir-akhir ini juga mempengaruhi kondisi pasar sehingga perusahaan harus mempu mengambil keputusan managerial yang mampu mengakomodisir semua keadaan. Hal ini ditunjukkan dari penentuan rencana untuk melakukan pelepasan saham di semester kedua tahun ini, jika dimungkinkan, tapi jika kondisi pasar belum memungkinkan maka pelepasan saham akan dilakukan tahun depan. Di mana dalam pemberitaan tersebut juga disebutkan berapa besar perkiraan perolehan dana yang akan diperoleh, sehingga akan membuat saham perusahaan menjadi likuid.

Dengan melihat tingkat kompleksitas lingkungan organisasional yang ada maka perusahaan lebih baik menerapkan open systems dalam konsep manajemen perusahaan. Pemilihan komsep manajemen dengan sistem terbuka ini karena pada kenyataannya organisasi harus memutuhkan sesuatu dari lingkungannya dan memberikan sesuatu kepada lingkungannya. Lebih jelas diartikan bahwa organisasi atau perusahaan yang menganut system terbuka merupakan organisasi yang mengambil sumber daya dari luar lingkup perusahaan dan mentransformasikannya ke dalam lingkungan internal perusahaan untuk mengubahnya menjadi barang atau jasa yang selanjutnya akan dikirim kembali atau disampaikan kembali kepada lingkungan di luar perusahaan (lihat gambar 1).

Gambar 1. Organisasi sebagai Sistem Terbuka

Sumber: Winardi, Teori Sistem dan Pendekatan Sistem dalam Bidang Manajemen, 1997, hal.133

Dengan keterangan di atas dapat dikatakan bahwa suatu organisasi sebagai sebuah sistem terbuka, mencapai eksistensinya dari sebuah sistem lingkungan yang lebih besar, dan sebaliknya perusahaan tersebut harus menunjukkan ”pengabdiannya” kepada nilai-nilai sosial manusia dalam lingkungannya. Lingkungan keorganisasian itu sendiri juga merupakan sebuah sistem terbuka dan dinamik. Sebagai sistem, baik organisasi maupun lingkungannya memperlihatkan sifat-sifat sistematik dasar yang dikenal pada termasuk perilaku dengan tujuan tertentu, universal/generalitas dalam heterogenitas, keterbukaan, transformasi, keterkaitan satu sama lain, pengawasan dan pengendalian.

Dengan demikian maka di dalam menerapkan open system tersebut, perusahaan dituntut untuk menentukan struktur kewenangan atau hierarchy alam perusahaan. Dalam hal ini, agar garis kewenangan dapat disesuaikan dengan konsep system manajemen yang telah dipilih maka perusahaan hierarchy yang terbentuk adalah unstructured vertical hierarchy. Penerapan unstructured vertical hierarchy ini memudahkan penyampaian kewenangan kepada setiap bagian yang ada di dalam organisasi yang memiliki kompleksitas tinggi.

Setelah memahami tingkat kompleksitas lingkungan organisasi, konsep system manajemen yang dipilih, berikut hierarchy atas otoritas dalam organisai yang diterapkan maka akan memudahkan public relation dalam melakukan peranannya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat guna melakukan coping atas adanya penurunan laba perusahaan, padahal pendapatan mengalami peningkatan. Dalam hal ini, departemen public relation dituntut untuk mampu memprediksi dan secara proaktif dalam menghadapi dan mengantisipasi masalah eksternal yang berhubungan dengan sesuatu yang serius/gawat agar melalui peristiwa tersebut tercipta suatu citra positif institusi/perusahaan. Hal ini karena justru pada saat terjadi suatu peristiwa akan memaksa pihak manajemen untuk berpikir positif, kreatif dan inovatif sehingga dapat menemukan cara-cara atau sistem baru untuk memperbaiki manajemen. Dalam peristiwa tersebut tim pengendali tidak hanya berupaya keluar dari suatu peristiwa buruk tetapi justru memanfaatkannya sebagai manajemen yang kreatif serta siap menghadapi krisis-krisis yang akan muncul kemudian. Hal ini karena sebelum memutuskan tindakannya, pihak public relation terlebih dahulu melakukan tahapan dalam metode perilaku (behavioural methods) agar keputusan yang diambil benar-benar dapat membangun dan tetap menjaga citra perusahan. Dalam hal ini ditunjukkan dari:

  1. Detect, yaitu pendeteksian masalah dan memaparkan permasalahan yang dialami, yaitu menunjukkan besarnya pendapatan dan laba yang dihasilkan. Berikut penyebabnya.
  2. Construct, yaitu menyusun solusi yang dipilih agar solusi itu nantinya tidak hanya meningkatkan laba tetapi tetap menjaga citra perusahaan. Dengan kata lain, solusi tersebut akan mampu mengkomunikasikan sisi positif dari perusahaan, dan meminimalkan sisi negatif dari perusahaan (membuat khalayak hanya melihat sisi positif saja dan mengabaikan sisi negatifnya.
  3. Define, yaitu memilih dan menentukan langkah yang akan diambil (melakukan pemberitaan mengenai peristiwa yang terjadi dan berikut solusinya, yaitu penjualan saham kepada publik melalui media massa).

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Ilmu Komunikasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s