Senangnya Indonesia telah Merdeka, REALLY?

Kemarin adalah hari peringatan 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Semenjak sebelum tanggal 17 Agustus tiba, di mana-mana diselenggarakan berbagai kegiatan untuk menyambut gembira akan datangnya peringatan hari kemerdekan tersebut. Berbagai lomba khas Agustusan diselenggarakan dan diikuti mulai dari anak TK sampai Ibu-ibu rumah tangga. Semua menyambutnya dengan gembira. Semua bersuka cita, tertawa, dan ……….

Tapi, benarkah mereka bisa tertawa dengan sedemikian lepas, ketika mereka semua telah sampai di rumah kembali? Para suami yang harus menghapus keringat setelah seharian bekerja membanting tulang, Isteri harus segera mempersiapkan semua kebutuhan rumah tangga dan makanan sehat bagi keluarga, sementara harga melambung tinggi, sehingga harus menghemat, anak-anak yang membutuhkan perhatian dari kedua orang tua harus ditinggalkan kedua orang tuanya untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan fisik lainnya. Biaya pendidikan yang semakin hari semakin membumbung, harga-harga yang juga melambung tinggi, dan penderitaan rakyat sebenarnya telah sampai pada titik yang tertinggi, karena uang yang diperoleh hari ini tidak mampu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari ini.

Semua jenis media masa mengulas betapa bernilainya kemerdekaan yang telah dicapai oleh negara Indonesia ini. Dan aku jadi teringat pertanyaan anak saya yang sekarang telah duduk di bangku Kelas VI sekolah dasar, “Ma, kita ini kan bellum merdeka ya Ma, kita kan masih dijajah ya Ma?”

Pertanyaan itu disampaikan selepas dia pulang sekolah beberapa waktu yang lalu, menjelang bulan Agustus tiba. Saya jawab saja “IYA, kita memang belum merdeka, kita ini masih dijajah. Lihat saja budaya dan kebiasaan kita, masih banyak meniru orang lain kan. Kita masih memakai pakaian dan menggunakan kebiasaan orang luar.” Sebenarnya, saya ingin menjelaskan lebih jauh, tapi anak saya telah menyerocos melebihi saya. Anak saya saja tau betapa kita belum merdeka sepenuhnya, kok bisa? Ya, anak-anak sekarang memang KRITIS, banyak hal yang diperhatikan, dilihhat, didengarkan, dan dipertanyakan. Dan memang, secara moral dan secara keseluruhan Indonesia masih dijajah, bukannya dijajah, tapi menyediakan diri untuk dijajah. Berikut adalah kutipan yang menunjukkan hal bahwa semua hal di Indonesia masih tunduk pada arahan bangsa lain.

Dalam bidang pendidikan sejumlah perguruan tinggi Favorit seperti UGM, UI, ITB, dan IPB sejak 2000, berubah statusnya menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berdasarkan PP No 60/1999 dan PP No 61/1999. Kelak, mereka bakal menjadi perusahaan jasa pendidikan murni dengan payung Badan Hukum Pendidikan (BHP) berdasarkan UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 53 ayat 4.

Darwis SN, pemerhati kebijakan publik yang alumnus University of Adelaide Australia, mengungkapkan, draft RUU BHP sebenarnya dirancang sejak pertemuan “World Declaration on Higher Education for the Twenty-First Century: Vision and Action” di Paris tahun 1998 yang disponsori UNESCO.

Ia merupakan salah satu konsekuensi dari General Agreement on Trade in Services (GATS) WTO yang meliberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi, dan pendidikan selama hayat.

Bersama Amerika dan Inggris, Australia memang paling getol mendesakkan liberalisasi sektor jasa pendidikan melalui WTO. Pasalnya, sejak tahun 1980-an, mereka mendapatkan keuntungan paling besar dari liberalisasi jasa pendidikan (Ender dan Fulton, Eds, 2002). Pada tahun 2000 saja, ekspor jasa pendidikan Amerika mencapai USD 14 miliar atau Rp 126 triliun.

Asing juga dibiarkan mengambil alih perusahaan-perusaahan negara yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti BUMN. Dengan UU no 25/2007 tentang Penanaman Modal, pemain asing dan pemain lokal dibiarkan bebas berkompetisi di Indonesia. Pasal 7 ayat 1 dan 2 malah menghalangi “nasionalisasi” dengan berbagai aturan yang menyulitkan dan merugikan negara sendiri. Yang terjadi justru internasionalisasi BUMN.

Tahun ini, Komite Privatisasi memutuskan untuk memprivatisasi (melego) 34 BUMN dan melanjutkan privatisasi 3 BUMN yang tertunda tahun sebelumnya. Privatisasi melalui IPO di bursa efek dan dengan penjualan strategis (strategic sales) langsung kepada investor yang ditunjuk (Bisnis Indonesia, 5/2/2008).

Inilah privatisasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang dalam kurun 1991 – 2001 telah 14 kali melego 12 BUMN. Pada periode 2001 – 2006, kembali 14 privatisasi menjual 10 BUMN. Sedangkan hanya setahun, pada 2008 ini melego 37 BUMN. Masih pula disertai penjualan seluruh saham 14 BUMN industri, 12 BUMN dijual dengan kepada investor strategis, dan beberapa BUMN lagi dijual kepada asing.

Sekretaris Menteri Negara BUMN Muhammad Said Didu mengatakan, sebanyak 85 persen saham BUMN yang sudah melantai di bursa dikuasai oleh asing. Beberapa BUMN besar yang sudah menjadi perusahaan terbuka dan selalu membukukan keuntungan, antara lain PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Bukit Asam Tbk (Tempo Interaktif, 23 Pebruari 2006).

Di sektor perbankan, dengan pasal 22 ayat 1b UU Perbankan, warga negara dan badan hukum asing bebas untuk bermitra dengan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia mendirikan Bank Umum. Pihak asing pun bisa memiliki hingga 99% saham bank di Indonesia.

Saat ini 6 dari 10 perbankan terbesar di Indonesia kepemilikan mayoritasnya dikuasai asing. Menurut data Biro Riset InfoBank, Singapura merupakan yang paling banyak mengoleksi bank swasta Indonesia, yakni Bank Danamon, BII, Bank NISP, dan Bank Buana.

Tidak termasuk bank campuran, seperti Development Bank of Singapore (DBS) Indonesia, Overseas Chinese Banking Corporation (OCBC) Indonesia, dan United Overseas Bank (UOB) Indonesia. Totalnya tujuh bank. Kalau dirunut, kepemilikan Singapura ini perpanjangan tangan dari Temasek Holding.

Sementara di bidang migas, berdasarkan UU Migas No 22 tahun 2001, pemain asing boleh masuk sebebasnya dari hulu sampai hilir. Saat ini, menurut DR Hendri Saparini, lebih dari 90% dari 120 kontrak production sharing kita dikuasai korporasi asing. Dari sekitar satu juta barrel per hari Pertamina hanya memproduksi sekitar 109 ribu barrel, sedikit di atas Medco 75 ribu barrel. Itu pun, menurut pasal 22 ayat 1 UU Migas, badan usaha atau bentuk usaha tetap wajib menyerahkan paling banyak 25 persen bagiannya dari hasil minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebaliknya produksi terbesar adalah Chevron sekitar 450 ribu barrel per hari. Berdasar UU Migas yang radikal itu, pada 2004 sebanyak 105 perusahaan swasta mendapat izin untuk merambah sektor hilir migas. Termasuk membuka SPBU (Trust, edisi 11/2004).

Perusahaan itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika). Mereka mulai beroperasi setelah pemerintah dua kali menaikkan harga BBM pada 2005.

Di bidang pertahanan-keamanan, kita diatur asing lewat program-program seperti IMET (dengan Amerika), DCA (Singapura), Densus 88 (AS), NAMRU 2 (AS). Proyek NAMRU 2, disebut Koordinator MER-C Dr Jose Rizal sebagai pangkalan militer AS di jantung Indonesia.

Asing juga menguasai bisnis mutiara, pelayaran, jasa perawatan, dan industri petrokimia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan dari sekitar 20-an industri petrokimia di Indonesia hanya empat yang dimiliki oleh pengusaha lokal. “Dari 20-an perusahaan petrokimia, hanya empat yang dimiliki lokal. Selebihnya Filipina, Taiwan, dan Korea,” kata Menperin dalam seminar Indonesia Investor Forum 2 di Jakarta (Kapanlagi.com, 31 Mei 2007).

Dan, tema  peringatan hari kemerdekaan tahun ini adalah:

“Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, Serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global”

Dan, jika benar Indonesia telah merdeka dan berusia 63 tahun, itu adalah usia yang telah matang, di mana seharusnya seorang individu telah mampu menentukan sikapnya sendiri secara mandiri dan dewasa, sehingga tidak lagi tergantung pada kekuatan Asing guna menentukan ke arah mana negeri ini akan di bawa, agar tema di atas dapat diaplikasikan dengan tepat dan bukan malah semakin menyengsarakan rakyat, terutama rakyat kecil, yang masih harus mengais tong sampah untuk mengisi perutnya.

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Di sekitar kita. Bookmark the permalink.

3 Responses to Senangnya Indonesia telah Merdeka, REALLY?

  1. frenz says:

    i like you blog it’s simple
    but beautiful and very
    interesting…
    keep up the good work…

  2. kurt says:

    Tema yang mengena. masalah kita adalah ekonomi, dan negara harus bervisi ke sana. Meningkatkan derajat penghasilan rakyat agar bisa bertahan hidup dalam keterpurukan. SEmoga saja pemimpin ke depan fokus ke sana, dan KPK jangan takut mengeliminasi orang2 yang curang.

  3. alhusna says:

    @ frenz
    Thanks a lot🙂

    @ kurt
    Iya nih Mas, cuman saat ini memang tingkat kepercayaan kepada pemimpin semakin menipis, (lihat saja antusiasme masyarakat u memilih pemimpin atau keterlibatan dalam PEMILU PARTY SAJA BANYAK YANG GOLPUT KAN, bahkan kepada KPK pun sebenarnya ya ga percaya2 amat sich. Soalnya selama ini ujung2nya ya sama saja, ……
    Kayaknya masalahnya emang sudah sangat komplex, tak hanya jasmani, tapi lebih kepada mental (rohaninya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s