MANAJEMEN SDM RADIO MAHASISWA

Disampaikan oleh: Masduki (Praktisi, dan Anggota AJI Yk)

Kepada: Radio Mahasiswa Politeknik PPKP Yogyakarta , Studio Jl. Kaliurang Km 4.5 Gg. Kinanthi Yogyakarta 55281

INTRO:

Jajak pendapat yang dilakukan tabloid Radio Eksponen kepada 100 mahasiswa komunikasi di Jakarta tahun 1997 menunjukkan, mahasiswa sebagai konsumen tidak lagi sekedar menempatkan radio sebagai only medium hiburan. Mereka menilai, radio bisa memberikan tambahan pengetahuan melalui berita atau info-info ringan secara berkala Dilain pihak responden mengeluh, banyak radio siaran yang suka “asal mengudara saja” tidak mau menciptakan suatu inovasi, tetapi malah ikut-ikutan saja. Selain pendekatan pendengar (listener approach) yang kurang, SDM-nya kurang terlatih, bicaranya kaku, text book dan bertele-tele, sehingga membosankan. Seorang responden mengumpat, “Huh, terlalu banyak iklan, penyiarnya bicara ngalor-ngidul”(Media Gong, Februari 2000). SDM bagi radio merupakan kebutuhan paling vital. Sebuah radio berdiri diawali oleh kemauan sekelompok SDM, untuk bekerjasama, berkiprah dengan menggunakan kemampuan masing-masing ke dalam dunia penyiaran (broadcasting). Kalau radio bisa dianalogikan sebagai bus kota, maka SDM radio adalah sopir dan kondekturnya. Tanpa sopir dan juga kondektur, bus tidak akan berjalan (siaran), tidak mampu melintasi jalan raya (frekuensi) dan melayani kebutuhan penumpang (pendengar). SDM yang berarti sumber daya manusia, bukan bertumpu pada “MANUSIA” tapi keber”DAYA”-annya. Manusia banyak secara kuantitas, tidak dengan sendirinya berkorelasi pada kekuatan dan keberdayaan SDM sebagai vitalitas institusi radio. Seringkali SDM yang berlimpahruah justru menjadi bumerang, yang sarat intrik bagi kehidupan radio. Dalam konteks itu, pembahasan kali ini  menjadi sangat menarik. Radio adalah institusi publik, institusi yang terbuka. Artinya radio bisa dimiliki,  dan dioperasikan oleh siapa saja, dengan latar belakang pendidikan, sosial – ekonomi dan kelompok masyarakat yang beragam. Tidak ada “kepemilikan” yang mutlak terhadap sebuah institusi penyiaran yang mempergunakan ranah publik berupa frekuensi, misalnya mahasiswa jurusan komunikasi atau teknik saja. Radio memiliki tanggungjawab untuk menampung dan mewadahi semua orang, baik sebagai personal maupun kepentingan sosialnya. Adapun SDM yang terlibat didalamnya, adalah mereka yang diberi “otoritas” oleh komunitas masyarakat untuk melaksanakan penyiaran (on air). Otoritas ini harus dipergunakan sebaik-baiknya, diaras SDM dengan mempersiapkan dan mengembangkan kualitas personel secara berkesimbungan, mengacu pada koridor format radio yang bersangkutan, dalam hal ini radio komunitas.

Full Text: sdm radio

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Ilmu Komunikasi. Bookmark the permalink.

4 Responses to MANAJEMEN SDM RADIO MAHASISWA

  1. kyra.curapix says:

    wew
    pingin buat radio mahasiswa di fakultasq

  2. alhusna says:

    Bikin saja, it’s good idea. Bisa dimulai dari pembuatan radio mahasiswa, dan kemudian bisa dikembangkan dengan membuat televisi mahasiswa, keren kan
    Apalagi kamu kan anak elektro, so suka dengan otak-atik kan🙂

  3. gus says:

    ide menarik. jadi pingin nyobain radio komunitas di college tmpt sy ngajar ah…

  4. alhusna says:

    Iya pak, bagus untuk dicoba. Apalagi Bapak sebagai pengajar kan punya otoritas kan Pak. Biar mahasiswanya jadi lebih kreatif dan inovatif. Saat ini kondisi pendidkan memang lagi butuh penyegaran… dan kadang kalau diperhatikan saya juga miris dengan kondisi pendidikan di Indonesia dewasa ini, rasanya kok kehilangan ruhnya ya Pak…
    ???!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s