Aku = Sasuke?

sasuke1

“Sasuke itu, kan, sama sepertimu!”

Suara yang renyah itu masih terngiang-ngiang di telingaku.

Sebenarnya, apa peduliku? Bukankah Sasuke yang disamakan denganku? Bukan aku yang disamakan dengannya. Tapi bagiku sama saja! Karena aku tidak suka disamakan dengan orang lain, maka aku juga tidak suka orang lain disamakan denganku. Setiap orang punya karakter sendiri. Mirip boleh saja, tapi tidak sama. Tetap tidak akan pernah sama!

Fiuuh! Kok, aku sewot?

Sejak dulu aku memang tidak suka dibanding-bandingkan, apalagi disamakan dengan orang lain. Yah, meskipun hanya dengan Sasuke, salah satu tokoh fiktif dalam anime Naruto, aku tetap tidak mau disamakan dengannya. Dan jangan samakan dia denganku!

Peristiwanya tadi sore. Aku menonton anime Naruto bersama Ima, temanku sesama penyuka anime. Saat itu adalah episode yang menceritakan masa lalu Sasuke. Sasuke kecil ditanyai ayahnya mengenai pendidikannya di akademi, tapi Sasuke malah mengatakan kalau dia bosan karena selalu meraih ranking 1.

Karena terlalu asyik menonton, tidak kusadari kehadiran Rio, sepupu sekaligus tetanggaku yang juga satu SMA dengan aku dan Ima. Ketika dia tiba-tiba berkomentar, “Sasuke itu, kan, sama sepertimu!” sambil tersenyum, barulah aku dan Ima menyadari keberadaannya di dekat kami.

“Aaa… apa yang sedang kau lakukan di sini?!” Ima yang ekspresif langsung berteriak kaget sambil menunjuk-nunjuk Rio. Ima sudah tahu kalau Rio itu sepupuku yang tinggal di gang sebelah.

“Hahaha…” Rio malah tertawa tanpa dosa.

Aku sendiri hanya menolehnya sedikit lalu kembali menonton.

“Ima, kau dengar aku, tidak? Sasuke itu sama dengan Ana!”

“Bicara apa kau? Mengganggu saja! Pergi sana!” Ima mengusir Rio, tak acuh pada kalimatnya barusan.

“Hei, yang punya rumah, kan, Ana. Dia diam saja, kok. Lagipula, kau ini baru mengenalnya di SMA. Aku sudah sejak SD satu sekolah dengannya. Kau tahu, dia juga selalu ranking 1, sama seperti Sasuke.”

“Wah, hebat! Sudah kuduga, sejak mengenal Ana, aku tahu kalau dia pintar.”

Aku tidak berkomentar.

Rio memang selalu begitu. Kami sudah berteman sejak kecil, jadi sudah kenal baik satu sama lain. Apalagi, kami berdua ini, kan, sepupu. Keluarga kami juga berhubungan baik. Akibatnya, Rio bisa seenaknya main ke rumahku dan langsung memasuki ruang tamu, seperti tadi.

“Rio, bisa diam tidak? Aku dan Ima sedang menonton.” sindirku.

“Ya, ya, aku akan diam. Aku juga ingin menonton. Tapi benar, kan, Ana? Kau dan Sasuke itu mirip. Dan akan menjadi sama kalau kau terus bersikap dingin seperti itu.”

Kalimat terakhir Rio itu menjengkelkan, tapi aku bersyukur karena setelah itu dia mau diam.

Masalahnya, kenapa sekarang aku terpikir terus oleh perkataan Rio tadi sore?

Tidak tahulah, capek!

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

Besoknya di sekolah…

Guru fisika sedang menerangkan contoh soal untuk aplikasi Hukum Newton II.

“Perhatikan gambar ini! Ada dua benda yang massanya berbeda dihubungkan dengan katrol. Gesekan katrol dan udara diabaikan. Yang ditanyakan percepatan masing-masing benda. Apa yang dapat dijadikan petunjuk?” beliau bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada yang berniat menjawab. Aku pun mengacungkan tangan.

“Ya, Ana.”

“Tegangan tali pada benda kedua sama dengan setengah kali tegangan tali pada benda pertama.” jawabku yakin.

“Tepat sekali! Dari sini kita bisa membentuk sebuah persamaan, tapi belum bisa menyelesaikan soal. Ada petunjuk yang lain?”

“a-nya…” gumamku.

“Apa?” Ima yang duduk di samping kananku menyela.

“Percepatannya. Tapi aku bingung, percepatan benda kedua sama dengan setengah kali percepatan benda pertama atau sebaliknya, ya?”

“Coba saja jawab salah satu!”

“Ehm…”

Belum habis aku berpikir, Ima sudah mengangkat tangan kananku. Kontan aku memelotot ke arahnya. Tapi ternyata Ima kalah cepat. Siswa yang duduk di depanku sudah mengangkat tangan lebih dulu. Itu Rio!

“Oh, Rio. Silakan…”

“Percepatannya, Pak.”

“Bagaimana percepatannya?”

“Percepatan benda kedua sama dengan dua kali percepatan benda pertama.”

“Apa tidak sebaliknya?” guru itu rupanya mau menguji.

“Tidak, Pak. a2=a1.” jawab Rio yakin.

“Baik, memang betul. Dengan begitu, kita memiliki dua persamaan. Selanjutnya…”

Pelajaran pun berlanjut sampai akhirnya percepatan masing-masing benda ketemu.

Saat jam istirahat, hampir seluruh siswa sudah keluar kelas menyisakan aku, Ima, dan Rio.

“Hei, Rio. Kau mencuri jawaban Ana!”

“Siapa yang mencuri?”

“Kau! Kau mendengar Ana memberi tahu aku jawabannya, lalu kau mendahului Ana menjawab.”

“Sudahlah, Ima. Itu jawaban Rio sendiri. Bukankah tadi aku masih bingung?”

“Tidak bisa begitu! Bisa saja dia juga hanya coba-coba, kan, Ana?”

“Tidak apa-apa… Ima…” kata-kataku tersendat karena Rio tiba-tiba melirik tajam ke arahku.

Tatapannya tidak seperti biasa, penuh kebencian. Rio segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ima tampaknya juga menyadari perubahan pada diri Rio karena dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Begitu Rio menghilang dari pandangan kami, aku langsung jatuh terduduk.

“Ana, kau tidak apa-apa?”

“Ya, aku baik-baik saja…”

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Ana, maafkan sikapku tadi, ya?”

Aku mencoba memberikan senyuman terbaikku. “Tidak apa-apa…”

Aku tidak dapat memahami Rio kali ini. Enam belas tahun aku bersamanya, belum pernah dia bersikap seperti itu.

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

“Mau pulang, ya?”

Aku dan Ima segera menghentikan langkah kami menuju rumah. Rupanya Rio sudah menunggu kami di jalan yang biasa kami lewati. Dia tengah bersandar pada sebatang pohon.

“Rio?!” Ima tidak tahan untuk tidak berteriak.

“Gadis kecil, apa yang kau lakukan di sini?”

Wajah Ima langsung ditekuk. “Kau yang sedang apa di sini? Tiba-tiba mengagetkan orang yang sedang lewat. Aku, kan, biasa pulang bersama Ana! Dan satu lagi, jangan memanggilku gadi kecil!”

Rio tertawa sebentar, lalu katanya, “Jadi, kau kaget, ya? Apakah itu tadi juga cukup mengagetkan untuk Putri Ana yang tenang?”

Lagi-lagi aku tersentak oleh perubahan sikapnya. Gaya bicaranya… tajam menusuk. Nadanya dingin sekali. Ada apa denganmu, Rio?

“RIO!!!” Ima benar-benar mengeluarkan segenap suaranya.

“Tenanglah, Ima. Sepertinya Rio ingin berbicara denganku.”

“Daya tangkapmu memang bagus. Bisakah kita bicara berdua saja? Aku tidak mau ada pengganggu.” matanya melirik sedikit ke arah Ima.

Aku ikut-ikutan melirik Ima yang wajahnya sudah tidak karuan ekspresinya.

“Maaf, aku tidak mau berdua sa…”

“Benar juga…” Rio memutus kalimatku yang belum selesai. “Selain pintar, kau juga sangat taat pada agama, ya? Kalau begitu, di sini juga tidak apa-apa, asal kau…” Rio menunjuk Ima, “…kau diam saja!”

Meski masih dengan wajah merengut, Ima mengangguk juga.

Aku berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Rio, tapi biar ditunggu sampai cukup lama, Rio tetap diam. Kalau begini terus, aku bisa bosan. Kakiku mulai pegal-pegal. Lagipula…

“Aku iri padamu…”

Eh? Apa? Bukankah Rio baru saja mengatakan sesuatu? Apa katanya tadi? Dia iri padaku? Apa tidak salah? Gawat, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri, jadi tidak memperhatikan. Habis bagaimana? Tadi dia diam saja…

“Kau dengar, aku iri padamu!” Rio mengulangi perkataannya dengan tegas.

“Tapi, itu, kan, tidak mungkin…” gumamku.

Apa yang membuatnya iri padaku?

“Kau yang selalu terlihat tenang, sangat pandai, begitu percaya diri, selalu memperoleh ranking 1, juga taat pada agama, disegani teman-teman, dan…” Rio menggantung kalimatnya.

Dan apa? Kenapa tidak dilanjutkan? Aku, kan, jadi penasaran.

Aku tidak menyangka Rio akan seterus terang ini. Benarkah aku seperti itu di mata Rio? Dan itu membuatnya iri? Selama ini dia begitu baik. Kupikir dia tidak pernah punya perasaan iri padaku. Rio yang selalu mendukungku…

“Semua itu, membuatku mengagumimu…”

Hah? Mana yang benar? Tadi katanya iri, sekarang jadi kagum?

“Hahaha… kau bingung, ya?”

Tawanya itu menyebalkan, tapi sekaligus melegakan karena itu berarti dia telah kembali seperti biasa.

“Tidak juga, aku bisa mengerti. Ternyata, kau ini… tidak seperti Naruto, ya?”

Aku bisa menangkap kebingungan di wajahnya.

“Naruto juga mengagumi Sasuke. Awalnya dia memang iri, tapi itu memotivasinya untuk menjadi ninja terhebat dengan mengalahkan Sasuke, bukan untuk sekadar mengalahkan saja. Kemarin kau mengatakan kalau Sasuke itu seperti aku, ternyata kau tidak seperti Naruto.”

“Tentu saja! Aku tidak mau disamakan dengannya!”

“Kenapa? Meskipun nakal, dia cukup hebat. Dan yang terpenting, dia baik hati.”

“Tetap tidak sama denganku!” Rio mengeraskan suaranya.

“Kau tidak suka?”

“Ya.” kembali Rio menurunkan nada bicaranya.

“Sama, aku juga tidak suka disamakan dengan Sasuke.”

Rio terdiam, mungkin teringat kata-katanya kemarin.

“Begitu? Baiklah, aku minta maaf atas kejadian kemarin dan hari ini.”

“Tidak apa-apa. Walaupun tidak suka disamakan dengan orang lain, tidak ada salahnya mencontoh sifat baik mereka.”

Keadaan berlanjut dengan keheningan. Aku ingin mengakhirinya ketika terdengar suara sopran Nina yang lirih.

“Dan apa?” tanyanya.

Aku dan Rio sama-sama bingung.

“Ehm, yang tadi dikatakan Rio tentang Ana. Setelah disegani teman-teman, dan apa?”

Sesaat Rio tampak mengernyitkan dahi, lalu katanya, “Oh… dan apa, ya?”

Benar juga. Tadi, kan, terputus. Apa, ya? Aku juga penasaran kalau seperti ini. Lebih baik kalau tadi tidak usah diingatkan.

Jawaban Rio lama sekali. Sepertinya dia juga lupa. Dia tampak berpikir keras. Atau jangan-jangan, dia sedang mengarang jawaban.

“Dan Ana sangat mirip dengan Sasuke!” serunya mendadak sambil tertawa.

Apa? Tidak mungkin! Tadi, kan, atmosfernya serius. Mana mungkin dia mau memberi jawaban konyol begitu. Sudahlah, untuk apa peduli pada jawabannya? Apalagi, kali ini Ima ikut menertawakanku. Aku menghembuskan napas berat, lalu berbalik hendak pulang.

“Hei, mau ke mana? Aku, kan, belum selesai.” Rio menghentikan tawanya.

“Pulang. Aku anggap semua sudah selesai.” aku menjawab sambil terus berjalan.

“Tapi masih ada satu pertanyaan.”

Aku menghentikan langkah. Pertanyaan apa? Awas, kalau hanya untuk mengerjaiku!

“Sebenarnya, apa yang memotivasimu untuk berprestasi?” nadanya serius.

Sebenarnya… sebenarnya…

Dakwah Islam. Kecintaanku pada Allah dan Islam. Itulah motivasiku, semangatku! Mungkin kecintaanku tidak sebanding dengan kecintaan Rasulullah dan para sahabat kepada Allah dan Islam, tapi sedikit-sedikit, aku juga ingin menyumbang untuk kebangkitan Islam. Salah satunya adalah dengan berprestasi dalam bidang akademik. Apalagi, aku seorang muslimah berjilbab. Dengan berprestasi, aku bisa mengangkat nama baik umat Islam, khususnya muslimah. Kemuliaan Islam…

Ya, itulah motivasiku!

Aku kembali menghadap Rio dan tersenyum.

“Mungkin, karena aku ingin seperti Sasuke? Kau tahu, kan, aku menyukai tokoh itu? Biarpun begitu, bukan berarti aku suka disamakan dengannya. Kupikir, tidak ada salahnya meniru hal positif darinya, asal jangan yang negatif, seperti sifat pendendamnya itu.”

“Menyukai sesuatu yang dapat memberi motivasi dalam kebaikan, ya?” Rio manggut-manggut sambil memegang dagunya.

“Ya, kurang lebih seperti itu.” itu memang alasanku yang lain. Tentu saja alasan utamaku tidak kusampaikan pada Rio.

“Tapi…”

Apalagi? Batinku agak kesal.

“Kau benar-benar seperti Sasuke. Kau memang Sasuke versi perempuan!”

Apa?!

Rio sudah melesat jauh sambil tertawa-tawa sebelum aku sempat memprotesnya. Tiba-tiba Ima menyentuh pundakku pelan, menyadarkanku akan kehadirannya. Kekesalanku pun mereda. Kami lalu pulang beriringan.

“Kenapa kalian tidak jujur?” tanyanya sambil berjalan.

Aku mengerutkan kening.

“Rio tidak menyatakan yang sebenarnya tentang dirimu, mengenai lanjutan kalimatnya itu. Dan kau juga tidak memberi tahu Rio alasanmu yang sebenarnya.”

“Rio masih agak sulit memahami hal itu. Lagipula, aku tidak bohong, kok. Soal yang disembunyikan Rio itu, biarkan saja. Mungkin lebih baik aku tidak tahu.”

“Kurasa dia ingin mengatakan kalau kau itu cantik. Sasuke, kan, cakep. Tapi dia malu…”

Kedua alisku naik mendengar ucapan Ima. “Ah, itu tidak mungkin…” kataku menggeleng-geleng.

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

Sore hari di rumah.

“Hei, cousin!” sapanya begitu kubuka pintu.

“Alaikumsalam…” sahutku.

“Wassalamualaikum…” dia menyahut malu, masih dengan tersenyum-senyum.

“Ada apa?” tanyaku datar.

“Sepupuku Ana yang cantik dan selalu tenang, ini ada titipan kue dari ibuku untuk paman dan bibi.”

“Terima kasih.” aku menjawab singkat.

“Brrr… dingin!” dia menyindir sikapku yang tanpa ekspresi.

Aku hanya menelengkan kepala sedikit tanpa peduli pada sindirannya. Hampir saja aku berbalik masuk ketika dia bicara lagi.

“Aku pulang dulu, Sasuke perempuan!” setelah mengucapkannya, Rio segera berlari dan tertawa-tawa seperti biasa.

Langsung saja aku berseru, “Hei, jangan pernah memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi! RIO!!!”

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

MiEZ

Surabaya, 2007-2008

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s