Bulan dan Bayu

purnama Bulan…

Sudah mendekati tengah malam, tapi mataku belum mau terpejam. Karena itu, kuputuskan untuk keluar rumah. Sekarang aku berada di halaman belakang rumah, duduk di atas tanah dengan bersandar pada pohon mangga yang besar.

Wajahku tengadah menatap langit malam. Bulan di atas sana masih separuh, tapi cahayanya cukup terang, seakan-akan bulan itu tersenyum mengungkapkan kebahagiaannya. Tanpa alasan yang jelas, aku jadi jengkel melihatnya. Kupalingkan wajah dari bulan itu.

“Mungkin aku iri dengan kebahagiaan bulan itu?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Akhir-akhir ini hatiku galau, perasaanku tidak jelas. Entah mengapa…

“Hei, Bulan. Apa kau tidak pernah merasa sedih?” aku kembali mendongak, mengajukan tanya pada bulan.

Sunyi. Tentu saja. Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, lebih tepatnya, bulan tidak bisa bicara untuk menjawab pertanyaanku.

Aku duduk memeluk lutut, membenamkan wajahku ke dalamnya. Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan kekosongan seperti ini. Benar-benar hampa. Aku tidak sanggup untuk sekadar menggerakkan ujung bibirku membentuk senyuman, tapi aku juga tidak bisa menangis. Tidak sedih, juga tidak senang. Tidak ada rasa apa-apa.

“Hei, Bulan. Bulan…”

Lagi-lagi kutatap langit, tapi aku jadi celingukan mencari bulan. Bulan menghilang! Ke mana dia pergi?

Yah, rupanya awan berarak menutupimu. Kasihan kau, Bulan. Tapi sebentar lagi awan itu juga akan pergi ditiup angin. Ngomong-ngomong, kau jadi kelihatan sedih kalau ditutupi awan begitu. Kau seperti ikut merasakan apa yang saat ini kurasakan. Tapi, aku, kan, tidak sedih. Ruang rasaku kosong. Atau jangan-jangan, aku bahkan tidak memahami bagaimana hatiku sendiri?

Aduh, Bulan… aku tidak tahu…

Andai kau bisa bicara, beri aku nasihat, kata-kata penyemangat, apa pun itu, apa saja juga boleh…

Sekarang kau malah benar-benar tertutup awan. Mungkin hatiku juga begitu, ya? Tertutup selubung, jadi tidak bisa merasa. Lalu, bagaimana cara menyingkap selubung itu? Kalau awan, kan, bisa ditiup angin.

Sudahlah! Lebih baik aku tidak berbicara terlalu dalam mengenai hal-hal yang rumit. Nanti aku malah tambah pusing.

Aku bangkit berdiri, hendak kembali ke dalam rumah. Namun, baru tiga langkah berjalan…

“Tunggu…” terdengar suara yang sangat lirih.

Aku langsung terpaku di tempatku berdiri. Baru saja ada suara. Memang pelan sekali, tapi aku yakin ada suara yang memintaku menunggu.

Apa, atau siapa itu tadi?

Aku memandang berkeliling. Tidak ada seorang pun. Atau hanya suara angin? Tapi mana mungkin angin berkata “tunggu”? Apa iya, hanya perasaanku?

Segera saja bulu kudukku berdiri. Apalagi angin tiba-tiba berhembus. Pelan-pelan, aku mulai melangkahkan kaki lagi. Tapi…

“Aku bilang, tunggu…” ada suara lagi.

Aduh, siapa sebenarnya itu? Mengapa ada suara, tapi tidak ada wujudnya?

Tiba-tiba aku menyesal telah keluar rumah di tengah malam begini. Udara juga sangat dingin sementara pakaianku tidak cukup menghangatkan.

“A, ada apa?” aku memberanikan diri menyahuti suara itu.

Diam agak lama sampai akhirnya terdengar jawaban, “Aku, kan, ingin berbicara denganmu…”

Tubuhku menegang. Kali ini suaranya terdengar jelas. Tidak seperti dua suara sebelumnya yang lebih mirip desau angin. Pemilik suara itu seakan-akan telah berdiri tepat di belakangku.

Rasanya aku tidak mungkin salah. Itu suara seorang laki-laki. Aku ingin menoleh, tapi juga tidak ingin karena takut. Aku kesal dengan diriku yang seperti ini. Ayo, buat keputusan!

Aku membalik badan perlahan. Harus berani…

Eh? Tidak ada siapa-siapa?

“Kau… di mana?” pertanyaan itu keluar tanpa kupikir lagi.

“Di atas.”

Refleks, aku mendongak. Mataku terbelalak.

“Aaaa…!!!” jeritku tak tertahan sambil memejamkan mata.

BUGG!

Suara berdebam itu memaksaku membuka mata. Sepasang kaki telah mendarat di atas tanah di depanku. Saat ini mataku sibuk mengamati sosok yang berdiri di hadapanku itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Ups, dia tengah tersenyum saat pandangan kami bertemu. Buru-buru aku menunduk karena kurasakan wajahku memanas.

“Sebenarnya, kau ini siapa?” tanyaku sambil mengetuk-ngetukkan kaki.

“Benar juga, sampai lupa memperkenalkan diri.” dia tersenyum kecil. “Namaku, Bayu.”

Angin langsung berhembus kencang begitu dia selesai menyebutkan nama. Aku jadi kedinginan. Bayu, artinya sama dengan angin.

“Lalu, apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?”

“Aku sudah mengatakannya, kan? Aku ingin berbicara denganmu. Daripada bicara sendirian sepertimu, bicara dengan bulan, eh?” kali ini dia menertawakanku, tawanya merdu sekali, seperti berasal dari dunia lain.

Eh? Kenapa aku terpana begini? Tidak boleh, tidak boleh!

Aku menggeleng kuat-kuat.

“Dingin, ya?” dia bergerak mendekat untuk menyentuh bahuku.

“Tidak!” aku sedikit menyentak dan segera mundur.

“Tidak perlu takut begitu, Nina…”

“Eh?” aku terperangah.

Aku, kan, belum menyebutkan namaku?

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Itu…”

Aku menunggu dengan jantung berdebar. Bagaimana kalau jawabannya tidak logis? Bagaimana kalau dia berasal dari alam gaib?

“Itu… tidak penting, kan?”

Hah? Jadi, hanya itu yang ingin dikatakannya? Menyebalkan sekali!

Dengan satu gerakan cepat, dia sudah menangkap pergelangan tangan kiriku.

Mu, mustahil! Gerakannya tadi cepat sekali. Aku sampai tidak sempat menghindar. Aku bahkan tidak dapat melihatnya. Tapi tidak seperti dugaanku, ternyata tangannya hangat. Tadinya kupikir tangannya dingin, sedingin ekspresi wajahnya.

Dia manusia, kan?

Aku menunduk melihat kakinya, benar-benar menapak di tanah, kok.

“Kau lihat bulan di langit itu?” tiba-tiba dia bicara.

Aku mengangkat kepala. Bukannya menatap langit, aku malah mengamati wajahnya yang menengadah ke langit.

“Bulan itu indah. Bercahaya menerangi malam. Tapi ada kalanya, ia tertutup awan. Kalau sudah begitu, angin yang akan menggiring awan-awan itu agar tidak menutupi bulan lagi.” saat mengakhiri kalimatnya, dia menunduk melihatku.

Pandangan kami bertemu lagi, tapi kali ini aku tidak berusaha menghindarinya. Dia manatapku dalam-dalam dan lama sekali, seperti menghipnotis. Aku merasa sudah pernah mengenal orang ini.

“Aku juga akan menjadi angin yang mengusir kegalauan di hatimu.”

Lagi-lagi angin berhembus kencang, membuat anak-anak rambutku yang nakal menutupi wajah.

“Ikuti apa yang kukatakan. Astaghfirullahal adzim…”

Astaghfirullahal adzim.

Aku mengikuti ucapannya dengan sungguh-sungguh. Karena kurasakan ada yang bergetar di hatiku, aku pun memejamkan mata.

Astaghfirullahal adzim.

“Kita manusia, sering secara sadar atau pun tidak melakukan kemaksiatan. Semua itu dapat menodai hati kita, menutupi hati kita. Hati menjadi kotor dan kita menjadi jauh dari Allah. Karena itu, beristighfarlah. Istighfar dapat membersihkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah.”

Astaghfirullahal adzim.

Getaran-getaran di hatiku berubah menjadi buliran air mata yang merembes lewat kelopak mataku yang tertutup.

Tubuhku rasanya limbung, seperti berayun ke depan. Tapi aku tidak jatuh karena dia menangkapku ke dalam pelukannya. Ini mengingatkanku pada dekapan ayah saat aku kecil dulu. Aku merasakan kehangatan.

Kenapa aku menurut saja, ya? Harusnya aku berontak, tapi tidak bisa kupungkiri, aku merasa nyaman.

“Lihat, bulan kembali bersinar. Awan yang menutupinya telah menghilang.” sayup-sayup kudengar dia bicara.

Karena terlalu menikmati kehangatan dan kenyamanan yang baru saja kudapatkan, aku tidak mau untuk sekadar membuka mata sebentar demi melihat bulan. Aku hanya bergumam pelan.

“Hanya dengan dzikrullah, hati menjadi tenang…” itu adalah kalimat terakhirnya yang tertangkap telingaku sebelum aku tidak ingat apa-apa lagi.

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

“Nina, bangun! Bangun, Nina…” guncangan keras di tubuhku memaksaku untuk membuka kelopak mata yang masih tertutup rapat.

Lensa mataku berusaha memfokuskan bayangan wanita yang berjongkok di depanku. Wanita itu… ibuku!

“Bangun, Nina! Kenapa tidur di tempat seperti ini?”

“Eh?” aku mengerjapkan mata, menggosok-gosoknya dengan tangan.

Hah? Aku tertidur di halaman belakang rumah, di atas tanah tanpa alas, dan bersandar pada batang pohon mangga? Apa yang kulakukan?

“Ha, hat, hatsyiii!”

“Nah, kamu jadi flu, kan? Tadi malam anginnya kencang sekali, tapi kamu malah tidur di luar semalaman…”

‘Aku juga tidak tahu, Bu! Sekarang ini pun aku masih bingung…’ jeritku dalam hati.

“Ibu mencarimu ke mana-mana. Ibu sangat panik melihat kamarmu kosong dan tidak menemukanmu di mana pun!” kentara sekali dari nada bicaranya, ibu benar-benar mengkhawatirkanku.

Sekarang ini aku jadi merasa bersalah.

“Ibu, maafkan aku…” lirihku.

Ibu menarik napas dalam.

“Sudah, tidak apa-apa. Kamu salat Subuh dulu, ibu akan menyiapkan air hangat untukmu.” Ibu mulai beranjak dari tempatnya.

“Terima kasih, Bu…”

Ibu tersenyum. Aku lega melihatnya. Tanpa sadar, aku ikut tersenyum. Tapi, rasanya aneh sekali. Memang, sudah terlalu lama aku murung, dan sudah lama sekali aku tidak tersenyum. Jadi, bibirku agak kaku untuk sekadar membentuk seulas senyum.

Aku segera masuk rumah dan menunaikan salat Subuh. Setelah salat, bukannya melepas mukenah, aku malah duduk di atas tempat tidur dan merenung lagi.

Apa maksudnya, ya, peristiwa tadi malam itu? Tapi, tadi malam itu benar-benar terjadi atau hanya mimpi? Mungkin hanya mimpi. Mungkin aku tertidur saat merenung sambil melihat bulan, lalu memimpikan hal itu.

Tapi, tunggu dulu. Tadi malam, kan, aku keluar tanpa membawa selimut. Kenapa aku bangun dengan memakai selimut? Aku tidak tidur sambil berjalan, kan? Itu tidak mungkin! Atau ibu yang menyelimutiku? Tidak, tidak! Ibu sudah terlalu sibuk mencariku dan langsung membangunkanku begitu menemukanku. Jadi…

“Nina…” tiba-tiba ibu muncul di depan pintu kamarku.

“I, iya, Bu…” aku tergagap.

Pikiranku tentang peristiwa semalam langsung terputus oleh kehadiran ibu.

“Sudah selesai salat? Kok, melamun?”

“Eh? Tidak, kok, Bu. Aku, kan, sedang melipat mukenah…” aku berusaha tersenyum semanis mungkin dan segera menyibukkan diri dengan melipat mukenah.

“Oh, kalau sudah selesai, bantu ibu di dapur, ya?”

“Beres, Bu!”

Ibu pun berlalu. Saat itu mataku tertumbuk pada foto keluarga kami. Di situ ada ayah dan ibu yang tersenyum, dan aku di tengah-tengah mereka. Ayah sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Ayah?

Aku tersentak. Laki-laki yang tadi malam itu memang masih muda, mungkin sekitar 20 tahun, tapi wajahnya benar-benar mirip ayah. Aku baru ingat. Bisa dikatakan, dia itu adalah sosok ayahku waktu masih muda. Selain itu, nama ayahku memang Herbayu, biasa dipanggil Bayu. Jadi benar, tadi malam itu ayahku? Aduuuh, aku semakin tidak mengerti!

“Ehm, Bu…” panggilku begitu sampai di dapur dan mulai mengiris bawang.

“Ada apa, Nina?”

“Apa tadi Ibu membawakan aku selimut saat membangunkanku?”

“Mana mungkin, Nina. Ibu sudah bingung sendiri waktu mencarimu. Lain kali jangan diulangi, ya?”

“Iya…”

“Bukannya kamu sendiri yang membawa selimut itu?” ujar Ibu lagi.

“Eh? I, iya, benar juga. Aku sampai lupa…” aku menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum dengan ekspresi tidak menentu.

“Kamu ini, Nina, tidak pernah berubah. Tapi ibu senang karena hari ini kamu kembali menjadi Nina yang ceria seperti dulu.”

“Benarkah?”

Ibu mengangguk.

Apa ini ada hubungannya dengan peristiwa tadi malam? Aku jadi bisa tersenyum lagi, bahkan ibu mengatakan kalau aku kembali ceria.

“Tetaplah menjadi Nina ibu yang ceria…”

Mataku berbinar. Sambil mengangguk mantap, aku menyahut dalam hati, ‘Apa pun itu, yang membahagiakan Ibu!’

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Apakah itu hanya mimpi, ataukah benar-benar terjadi. Tapi satu yang pasti, kejadian itu menghapus galau di hatiku, dan aku kembali merasakan kedamaian jiwa.

Ada satu kalimatnya yang mengena betul di hatiku, “Hanya dengan dzikrullah, hati menjadi tenang…”

~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~,,~

MieZ

Surabaya, 2007-2008

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Bulan dan Bayu

  1. airsurga says:

    add ya/….ni kumpulan puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s