Ketua KPK dan Ajaran Ki Hajar Dewantara

Menjadi ketua KPK berarti berposisi sebagai pemimpin KPK. Artinya, menjadi ketua KPK bukan hanya menjadi orang yang berkedudukan paling tinggi di KPK, bisa perintah sana, perintah sini, perintah ini, perintah itu. Tetapi, menjadi ketua KPK berarti menjadi pemimpin bagi lembaga KPK, yang berarti pula mengemban fungsi kepemimpinan di KPK, yaitu fungsi pengarah, pendorong, motivator, pemberi teladan, evaluator, organisator, dan fungsi-fungsi kepemimpinan lainnya. Jadi, seorang ketua KPK, itu berarti harus menjadi pengarah dan pendorong bagi setiap anggota KPK untuk menjalankan fungsi KPK sebagai komisi peberantasan korupsi, sekaligus menjadi panutan. Yupps, mengapa panutan? Karena seorang pemimpin itu juga seorang pendidik, pengajar, dan pembimbing bagi para anggotanya. Jadi tiga pesan Ki Hajar Dewantara yang selama ini lebih banyak didengungkan di sektor pendidikan harus bisa dterapkan dalam kepemimpinan di KPK, yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Ing Ngarso Sung Tuladha, artinya di depan memberi contoh. Menjadi ketua KPK  harus memberi contoh mengenai integritas, kejujuran, kedisiplinan dalam menjalankan setiap program KPK. Masalah yang umum terjadi pada masyarakat Indonesia adalah ‘hangat-hangat tai ayam’. Sebuah program biasanya hanya cetar menggelegar (meminjam istilah Syahrini) di awal-awal program didengungkan, namun dalam pelaksanaannya biasanya melempem. Artinya, konsistensi, komitmen, reliabilitas sebuah program harus diawasi pelaksanaannya agar program yang dicanangkan bisa dilakukan sampai tuntas, terutama dalam penyidikan sebuah kasus. Misalnya, ketua akan datang in time (bukan on time) di kantor dan berupaya untuk melakukan pekerjaan secara in time pula (bukan on time).
In Madyo Mangun Karso, artinya di tengah membangkitkan semangat, niat, kemauan. Ketua KPK harus bisa membangkitkan semangat kepada para anggota KPK untuk melaknakan program dan fungsi KPK dengan penuh kekompakan, kebersamaan, dan kerja keras, serta kerjasama. Adanya kekompakan, kebersamaan, dan kerja keras ini diharapkan akan mampu melahirkan inovasi dan kreativitas dalam penanganan pembasmian korupsi di Indonesia. Dalam hal ini, inovasi yang akan dilakukan adalah:
Pertama, melakukan evaluasi terhadap sistem dan prosedur operasional di lingkungan internal KPK, mulai dari sistem prosedur perekrutan anggota KPK agar KPK tidak kemasukan virus kolusi dan nepotisme, dan bisa menyaring anggota KPK dengan kompetensi fisik, moral, dan spiritual yang baik; sampai sistem dan prosedur operasional penyidikan kasus, dan sistem-sistem lainnya yang diperlukan.
Kedua, membentuk badan evaluasi sistem pengendalian internal lembaga pemerintahan. Evaluasi terhadap sistem pengendalian internal pada setiap lembaga di Indonesia ini penting untuk dilakukan, karena dengan penerapan sistem pengendalian internal yang baik maka akan bisa meminimalkan peluang bagi pelaku untuk berperilaku korup. INGAT, KEJAHATAN TERJADI KARENA ADANYA PELUANG. Dengan inovasi ini, aku akan bisa mengobati sekaligus mencegah praktik korupsi, karena dengan adanya evaluasi pada sistem pengendalian internal lembaga pemerintahan, maka akan terkuak penyelewengan yang terjadi dan akan memberi efek berhati-hati bagi calon pelaku yang memiliki peluang untuk melakukan korupsi. Jika memiliki badan evaluasi sistem pengendalian internal lembaga pemerintahan, maka KPK akan dengan mudah menelusuri bukti-bukti terkait dengan kasus korupsi yang sedang ditangani.
Ketiga, membuat program tontonan untuk ditayangkan di televisi dengan goal untuk mendidik bangsa agar menghindari korupsi. Tentu saja programnya harus dikemas sedemikian rupa agar disukai masyarakat. Seperti program kartun untuk anak-anak, sinetron untuk remaja, dan berita untuk orang dewasa, serta program-program yang talk show yang disesuaikan dengan trend masyarakat dalam menonton televisi. Di sini, program yang disampaikan harus memberikan tuntunan dan sentuhan lembut kepada pemirsa untuk menyadari dampak negatif korupsi bagi keluarga mereka.
Keempat, bekerja sama dengan lembaga pendidikan mulai Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi untuk mensosialisasikan kepekaan anak didik terhadap praktik korupsi. Di sini anak akan diajak untuk melakukan simulasi dan pembelajaran terkait dampak korupsi bagi anak-anak dan anggota keluarga lain, moral, spiritual, dan praktik kesiswaaan untuk mendorong siswa agar sadar bahaya korupsi. Jika meminjam istilah Narkoba, ya kasih saja slogan. SAY NO TO KORUPSI, SAY NO TO MENCURI, SAY NO TO GHASAB, dan lain-lain. Kerjasama dengan lembaga pendidikan ini, selain memiliki fungsi pencegahan, juga memiliki fungsi pembasmian korupsi yang juga sering ditemukan di lembaga pendidikan. Masa sih, para tenaga pendidik di suatu lembaga pendidikan tidak malu saat melakukan korupsi, la wong anak didiknya saja diajari untuk tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara yang haram?
Kelima, gerakan cepat tanggap. Aku akan mengambil tindak cepat, ya semacam buru sergap, terhadap rumor korupsi. Saat mendengar ada orang yang mengetahui ada dugaan tindak korupsi maka KPK akan segera mengambil tindakan untuk memanggil orang tersebut agar melaporkan kesaksiannya kepada KPK, sehingga KPK bisa membantu menelusuri upaya pembuktian atas tindak korupsi yang diduga dilakukan oleh satu dua tiga atau sepuluh oknum. Dengan adanya gerakan cepat tanggap ini, maka akan memperkecil peluang pelaku untuk menyembunyikan, menghilangkan bukti-bukti kejahatan korupsi, dan membangun skenario alibi.
Tut Wuri Handayani, artinya di belakang memberi dorongan. Lo kok di belakang? Ketua itu kan selalu di depan? Tentu saja program-program di atas tidak dilakukan sendirian kan? Akan ada divisi-divisi untuk melaksanakannya. Nah, di sini pemimpin akan memberi dorongan kepada para pelaksana tersebut dengan datang langsung ke setiap pelaksanaan program, melakukan monitoring, dan evaluasi secara terus menerus, sehingga semua program akan terlaksana dengan baik, dan bukan hanya sekedar wacana atau rencana di atas kertas, atau pelaksanaan hanya di permukaan saja, sehingga terkesan ramai dengan program yang tidak ada esensinya. Meminjam istilah peribahasa Indonesia, jangan sampai program yang dicanangkan hanya ibarat TONG KOSONG NYARING BUNYINYA.
Akhirnya, satu hal pokok yang harus selalu dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dan rajin berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa, karena hanya Tuhanlah yang akan menolong, membimbing, dan memberi kemudahan  dalam menjalankan amanah sebagai ketua KPK.

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Fenomena sosial, Just a little bit, Manajemen Sumber Daya Manusia, Simple Journey and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ketua KPK dan Ajaran Ki Hajar Dewantara

  1. inspiratif
    semoga sukses selalu..ya
    dan semangat tetap terpelihara
    Semoga Indonesia bisa bebas dari Korupsi untuk Indonesia Mandiri
    salam ayobai.com (Ayo Bangkit Indonesia)
    jejaring sosial anak indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s