Jaran Kepang, Kesenian yang Hampir Punah

This slideshow requires JavaScript.

Jaran kepang merupakan kesenian asli Jawa yang telah banyak di performkan di luar negeri, seperti di Suriname, Malaysia, dan Singapura. Jaran kepang dikenal juga dengan jaranan, jathilan, dan kuda lumping. Saat memperformkan tarian ini, para penari akan menaiki kuda yang dibuat dari anyaman bambu dan warna-warni yang cerah. Sebagai seni yang mengadung unsur ritual spiritual, jaran kepang diiringi dengan aroma ritual, seperti pembakaran kemenyan.
Seperti yang saya lihat dalam pertunjukan jaran kepang atau kuda lumping di Kebun Bibit Manyar, pada hari Minggu, 9 Desember 2012 lalu, pertunjukan yang dihentak suara gamelan tersebut juga diiringi dengan bau kemenyan dan elemen ritual mistis lainnya. Saat hentakan gamelan makin keras, maka terlihat gerakan penari juga makin cepat, dan tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan… rupanya sudah ada penari yang mengalami ketidaksadaran. Pada saat seperti ini, penari tersebut biasanya akan melakukan atraksi yang tidak lazim, seperti memakan beling atau benda keras dan/atau tajam, atraksi kekebalan.
Pada saat pertunjukan ini saya tidak sampai situasi seperti itu, saya ambil adegan saat kesurupan tersebut terjadi dan selanjutnya saya tidak tega saat harus melihat para penari tersebut tidak sadar. Saya mengajak anak-anak untuk mencari pemandangan lain, dan kembali lagi ke lokasi pertunjukan saat sudah terjadi pergantian penari, para gadis yang menarikannya dengan lebih gemulai.
Nah di sini saya kutipkan sedikit sejarah jaran kepang atau kuda lumping dari Wikipedia ya:

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Uncategorized, Wisata dan Budaya. Bookmark the permalink.

4 Responses to Jaran Kepang, Kesenian yang Hampir Punah

  1. Pakde Cholik says:

    Di kampung saya jaran kepang sudah diupgrade dengan tambahan alat musik yang lain sehingga lebih semarak. Tapi yang tradisionil juga masih ada.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. berbol says:

    iya,, dulu sering keliling dan mentas di desaku sekarang jarang banget,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s