ketika Tulang Rusuk Mencari si Empunya

Begitulah… pertemuan kami, aku yang diturunkan (red-dilahirkan) di Lamongan dan my hubby diturunkan di Blitar, akhirnya dipertemukan di Masjid Al Falah Surabaya, 17 tahun yang silam ….

Jika mengingat perjalanan dan pertemuanku dengan my hubby, ku jadi teringat kisah Nabi Adam dan Ibu Hawa yang diturunkan di bumi, di tempat yang terpisah, dan akhirnya keduanya dipertemukan lagi di Jabal Rahmah, di Padang Arafah. Aku yang diahirkan di Lamongan dan sempat terseret arus ke arah Kota Bogor dan Jakarta, seolah terpanggil untuk kembali ke arah Timur. Bahkan tawaran untuk singgah dan tinggal di Kota Solo pun tidak bisa menahanku untuk tinggal di arah Barat. Perjalanan tetap mengarah ke Timur. Sesampai di Lamongan pun, di tanah kelahiran, masih belum juga kutemukan ketenangan. Seolah masih ada sesuatu yang harus aku temukan di tempat lain.

Bahkan ketika ada tradisi ‘nontoni‘ pun, belum ada klik di hati (red- nontoni adalah budaya di desa kelahiranku, jika ada pemuda yang berniat untuk memperisteri seorang gadis, maka dia dan keluarganya akan bertandang ke rumah si gadis, jika si gadis dan keluarganya berkenan, maka pada waktu yang ditentukan, si gadis dan keluarganya akan melakukan acara ngunduh mantu ke rumah si pemuda. Tradisi ini serupa dengan tradisi yang dilakukan di daerah Minangkabau dan tidak begitu lazim dilakukan di Indonesia, karena lazimnya, pihak pemuda lah yang melamar dan meminta si gadis).

Awalnya, aku juga tidak ngeh kalau acara itu adalah acara nontoni. Aku baru ngeh saat semua sudah berlalu dan Bapak menanyakan kesanku saat melihat si pemuda dan keluarganya tersebut. Bapak menceritakan latar belakang dan kondisi perekonomian keluarga dia, serta harapannya kelak. Waduh, waktu itu aku belum membayangkan sebuah pernikahan, karena aku masih ingin bekerja dan kuliah dulu. La wong masih baru lulus SMA.

Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut adikku pergi ke Surabaya, karena adikku mau kuliah di Surabaya. Di Surabaya, aku tinggal (red-numpang) di rumah salah seorang yang kukenal di Surabaya. Aku pun mencari-cari aktivitas apa yang bisa kulakukan. Sambil melamar ke sana dan ke mari (dengan mengandalkan ijazah SMA), aku juga mencari tempat kos dan kursus atau apa saja yang bisa menjadi sarana untuk bertemu orang-orang dan mendapat pengalaman.

Singkat cerita, aku mendapatkan tempat kos di Surabaya, tempat kursus, aku pun bisa ikutan dalam siaran di sebuah stasiun radio di Surabaya, ikut aktif dalam kelompok Conversation. Dan dari sini aku masih diarahkanNYA ke Masjid Al Falah, Surabaya. Awalnya hanya untuk mencari buku (sebagai salah satu rangkaian perjalananku dalam berburu buku, selain di Jalan Semarang, Blauran, Toko Buku Manyar (waktu itu masih panas dan harganya masih sangat murah, karena menyediakan buku  bekas juga), sampai Gunung Agung, Sari Agung). Sering berunjung ke sana, Aku pun ikut bergabung dalam Remaja Masjid di sana. Beberapa bulan ikut aktif di setiap kegiatan  Remaja Masjid, tiba-tiba aku menerima surat yang diantarkan ke tempat kosku. Surat yang berbahasa indah dengan tulisan tangan yang rapi jali, jelas, dan bagus. Awalnya aku tidak perduli, jadi aku mengabaikannya begitu saja. Toh, aku juga tidak kenal dengan nama pengirim yang tercantum di dalamnya. Setelah itu, kiriman makanan, buah, minuman sering diantarkan. Tetapi aku pun masih belum perduli. Semua makanan itu aku bagikan kepada teman-teman kos dan tetangga di belakang rumah. Bahkan aku pun tidak berniat mencicipinya. Hingga akhirnya surat kedua dilayangkan. Dan, aku pun masih tidak sedemikian memperhatikan. Hal ini berlangsung sekitar enam bulan.

Hingga akhirnya, pada suatu acara, aku harus menghubungi si pengirim surat tersebut, dalam rangka pemenuhan kebutuhan konsumsi acara yang diadakan Remas. Nah, setelah itu, kami pun bertemu. Karena meskipun dia salah satu anggota remas juga, tetapi dalam setiap pertemuan, kami dipisahkan oleh hijab, sehingga hanya bisa saling mendengar suara. Pada saat pertemuan itu, aku menjawab surat-suratnya secara lisan, bahwa “jika memang benar-benar ingin menikah dengan saya, silahkan datang ke rumah, karena saya tidak mau berpacaran”.

Sekali lagi singkat cerita, aku dibawanya ke rumah guru mengajinya. Guru mengaji inilah yang kemudian mengantar dia ke rumah untuk mengkhitbahku (red-melamar). Acara khitbahan yang sungguh tidak lazim, tidak satu pun anggota keluarganya yang ikut dalam acara khitbahan tersebut, hanya dia, guru ngajinya, dan teman sepengajian. Tidak lazimnya lagi, acara khitbahan itu dilakukan pada pukul satu dinihari. Yupps…. ketokan pintu di dinihari itulah yang mengawali khitbahan dia kepadaku. Dan, meskipun setiap aku pulang ke desa aku diberitahu oleh orangtuaku bahwa keluarga pemuda yang dulu pernah nontoni masih menanyakan diriku, ternyata kedua orangtuaku menerima khitbahan itu tanpa ba bi bu….

Dinihari itu juga, penentuan waktu pernikahan ditetapkan. Tanggal 18 November acara khitbah tersebut dilakukan, dan tanggal 1 Desember akad nikah ditetapkan untuk dilangsungkan. Sangat sederhana. Akad nikah dilangsungkan di Masjid Hidayatul Ummah, di desaku, masih dengan tanpa kehadiran anggota dan kerabat my hubby. Hanya kehadiran guru ngaji dan teman sepengajiannya saja. Pada saat ijab qabul pun aku tidak hadir di masjid (red-itulah mengapa aku juga belum pernah merasakan deg-degannya ijab qabul hehehe….), karena yang ke masjid hanya kaum laki-laki saja. Itulah mengapa pula, kadang-kadang my hubby bilang kepadaku “La dulu aku ijab qabulnya sama Bapak, ndak sama kamu Dik.”  Yupps… saya bisa ketemu sama dia di rumahku saat ijab qabul usai dilaksanakan di masjid. Dan, dilanjutkan acara penyerahan maskawin, serta poto-poto dan makan-makan. Sangat sederhana.

??????????

Ini poto waktu Ijab Qabul di Masjid Hidayatul Ummah ….

??????????

Poto pas Penyerahan Maskawin Usai Ijab Qabul…. hehehe … sudah boleh salaman sekarang ….

??????????

Resmi deh Jadi Suami Isteri …,

Selanjutnya, ini juga di luar kelaziman. Lazimnya, begitu usai ijab qabul, suami akan tinggal di rumah isteri, at least tiga hari. Tapi ini begitu acara ijab qabul usai, penyerahan maskawin, makan-makan, pas abis sholat dhuhur, aku sudah harus ikut my hubby ke Surabaya ….

Pernikahanku saat itu dilakukan menjelang bulan Ramadhan, dan aku masih belum juga diperkenalkan dengan keluarganya my hubby lo. Bahkan pada hari raya idul fitri pun, my hubby pulang mudik sendiri ke desa dan aku ‘disembunyikan‘ saja di rumah. Cerita punya cerita, akhirnya terbongkarlah … ternyata my hubby sudah dijodohkan oleh saudara-saudaranya dengan gadis pilihan keluarga, dan memang secara adat tradisi keluarga, my hubby yang dari Blitar tidak diperbolehkan untuk menikah dengan orang Lamongan, (katanya sih arahnya tidak pas, jadi secara arah tidak memperbolehkan adanya pernikahan di antara kami ….)

Tapi, Alhamdulillah … Allah menciptakan Nabi Adam, dan dari tulang rusuknya diciptakanlah Siti Hawa. Tulang rusuk itu tidak akan nyempal (red – melaju jauh) ke mana-mana, karena meskipun telah dipisahkan dan diturunkan di tempat yang berjauhan sekalipun, akhirnya sama-sama dipetemukan kembali di Jabal Rahmah. Kini perjalanan pernikahan kami telah berlangsung 17 tahun. Seluruh keluarga dan kerabat telah merestui dan meridhoi pernikahan kami. Putra-putri kami pun sudah lima. Dan sepanjang perjalanan pernikahan kami, aku dan my hubby, selalu merasakan ke’baru’an dan keterkejutan-keterkejutan, selalu ada yang baru yang kami temukan di antara kami. Maklum saja, sebelumnya kami tidak pernah kenal, kami tidak pernah tahu satu sama lain, siapa dia, siapa oragtua dan keluarganya, bahkan rumahnya pun waktu itu aku tidak pernah tahu … dan yang pasti kami penuh dengan keberbedaan yang menyadarkan kami bahwa perbedaan itulah yang membuat pernikahan menjadi sempurna, dengan adanya perbedaan maka akan saling melengkapi dan menyinari… perbedaan latar belakang keluarga, perbedaan latar belakang kehidupan keberagamaan, perbedaan prinsip dan cara pandang hidup, perbedaan-perbedaan yang menyebabkan banyak rasa dan warna yang kami lalui bersama.

Begitulah … ketika tulang rusuk mencari empunya, maka di mana pun dan bagaimana pun situasinya, akan ada daya tarik yang memudahkan pertemuannya. Jika Nabi Adam dan Ibu Hawa dipertemukan di Jabal Rahmah, aku dan my hubby dipertemukan di Masjid Al Falah Surabaya ….

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine. Happy anniversary, semoga langgeng dalam rona warna pelangi kebahagiaan.

Image

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in General, Just a little bit, Simple Journey. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s