Nafkah Halal itu Krusial: Halal dalam Niat dan Tindak

Krusialitas kehalalan nafkah yang diberikan kepada keluarga, untuk anak isteri dan diri sendiri menjadi vital untuk diperhatiakn di era sekarang. Saat marak kasus korupsi terkuak dan budaya kapital yang hedonis mulai membayangi kehidupan masyarakat. Betapa tidak, korupsi, suap, gratifikasi, dan lain-lain telah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari dan dengan mudah pula dalil pemaafan dan permakluman diberikan untuk mengelabui sebuah tindakan untuk memperoleh harta, agar seolah harta tersebut merupakan harta yang diperoleh dengan cara halal.

Ide menulis tema ini bukan karena saya habis ikut pengajian dan mendengarkan dalil-dalil dari mbah kyai, tetapi karena dua malam kemarin, terbangun terjaga dari tidur, dan ada sinetron dini hari yang menceritakan ‘karma’ tanpa memperlihatkan dengan jelas bahwa itu adalah karma, karena cerita mengalir dengan cepat dan terkesan yang penting pesannya tersampaikan kepada penonton.

Judulnya pun aku tidak terlalu memperhatikan apa judulnya. Tetapi, pesan yang kutangkap adalah bahwa amal kita adalah pakaian kita, amal kita adalah makanan kita, yang akan berbuah output dan outcome bagi kehidupan kita, cepat atau lambat. Bahkan meskipun kita telah menyembunyikan amalan kita tersebut. Singkatnya, ceritanya begini:

Ada sebuah keluarga yang terdiri atas ibu, anak perempuan, dan menantu. Sang menantu berjualan gorengan keliling, sang isteri menjadi isteri yang baik yang meu menerima segala kekurangan dan kelebihan suami. Bahkan, meskipun suami masih belum bisa memberi nafkah lebih kepada isteri. Oleh karena itu, kebanyakan kebutuhan keluarga dipenuhi oleh ibu yang memiliki pendapatan berlebih. Bahkan setiap hari ibu menabung untuk menyambut kelahiran sang cucu. Namun apa daya, sang anak tidak juga hamil. Sang Ibu semankin uring-uringan dan sering mencela sang menantu karena tidak bisa menafkahi keluarga dengan baik, dan tidak juga bisa memberi cucu. Dengan penuh harap, Ibu selalu menabung dan berbelanja segala perlengkapan untuk menyambut sang cucu yang diharapkan kehadirannya. Harapan untuk mendapatkan cucu dari sang anak sangat ditonjolkan dalam sinetron ini. Hingga akhirnya ada sebuah adegan yang menunjukkan apa sebenarnya pekerjaan ibu yang mendapatkan penghasilan berlebih tersebut. Ternyata, pekerjaannya adalah membantu wanita yang melakukan aborsi. Meskipun telah diingatkan anak dan menantu, tetapi bagi ibu, membantu aborsi adalah membantu orang lain yang membutuhkan, menolong agar orang-orang yang tidak mengharapkan kehamilan tersebut berbuah kelahiran bisa diselamtkan dari aib, dan dari beban yang tidak diharapkan. Niat ibu memang mulia, tetapi caranya yang tidak bisa diterima oleh sang anak dan menantu. pastinya juga tidak bisa diterima secara legal dan hukum agama.
Klimaks cerita adalah sang anak tiba-tiba sakit, dan harus dirawat di rumah sakit. Biaya yang besar tidak bisa ditanggung sendiri oleh sang suami. Dengan ‘tersipu-sipu’ dan terhina, sang menantu ‘meminjam’ uang ke pada ibu. Ibu pun memecah tabungannya untuk kemudian diberikan kepada menantu, sambil ngomel-ngomel dan mengata-ngatai menantu. Habis sudah tabungan yang dikumpulkan selama ini untuk menyambut kehadiran sang cucu. Lebih dari itu, rahim si anak juga harus diangkat, sehingga tidak ada lagi ada harapan buat ibu untuk menimang cucu. Akhirnya, ibu dibikin gila karena harapan besarnya pupus untuk mendapatkan cucu …..

Akhirnya: “musibah apapun yg menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri & Allah memaafkan banyak (dari kesalahan2mu).” (QS. Asy Syuara : 30)

Lalu apa hubungannya dengan judul di muka? Yupppss … meskipun ibu memiliki tujuan mulia untuk menolong dan membantu meringankan, dan memudahkan orang-orang yang tidak mengharapkan kelahiran dari kehamilan yang tidak diharapkan, akan tetapi menghilangkan nyawa anak manusia adalah dosa. Aborsi dilarang oleh hukum negara dan hukum agama. Oleh karena itu, dalih menolong tidak bisa mengaburkan adanya nilai etika dan moral yang mengiringi sebuah tindakan.

Harta yang diperoleh, akan mengalir ke seluruh pembuluh darah, di seluruh tubuh, dari hati hingga otak. Ketika harta yang diperoleh dengan cara yang tidak bermoral maka hati dan otak juga terkontaminasi oleh ketidakmoralan dan ketidaketisan tindakan tersebut. Hingga suatu saat akan ada pelajaran dariNYA (yang meskipun tidak banyak orang yang mau menyadarinya sebagai pelajaran dariNYA), dengan membalikkan apa yang dilakukan kepada orang lain, akan menimpa dia melalui anak dan isterinya. Yappp… seperti sinetron di atas, meskipun sebuah sinetron, tetapi ada nilai yang bisa dipetik, jika menolong orang untuk menghilangkan nyawa bayi, maka balasannya akan semakin pedih saat tidak juga ada kesadaran untuk menyadarinya lebih awal. Jangan korupsi, jika tidak ingin mendapatkan ganjaran yang lebih menyakitkan. Benar kan, ketika pelaku korupsi tidak bisa diingatkan dengan cara baik olehNYA, maka jalan terakhir adalah tertangkap KPK dan seluruh hartanya disita. Abis sudah….

Itu semua hanya analogi saja, dan pastinya masih banyak niat, tindak yang akan mengeluarkan buah-buah. Niat manis, tindak manis, buahnya pun manis. Demikian pula sebaliknya … itulah maka, seringkali terlihat orang bekerja dengan sedemikain mudahnya menghasilkan harta, uang, rajin bersedekah, berumrah, berhaji, tetapi ujian yang datang bertubi-tubi, rongrongan kiri dan kanan, seolah tiada habisnya, dan bahkan jika punya anak isteri, seolah anak-anaknya justru menampilkan tindak, sifat, perilaku yang dibenci, yang selama ini diperlakuinya … Sungguh menyakitkan bukan??? Karena itu, Waspada, Waspada, Waspada, Niat dan tindak harus sejalur di jalanNYA. Halal dan Thoyyib …

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Di sekitar kita, Just a little bit, Tausiyah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Nafkah Halal itu Krusial: Halal dalam Niat dan Tindak

  1. isty says:

    Assalamualaikum, Ustad.. Saya tertarik dengan pembahasan pada artikel diatas, karena terus terang saja saya sedang mengalami kerumitan rumah tangga berkenaan dengan judul artikel diatas. Saya sudah 7 tahun menikah dan belum dikaruniai anak, selama ini kami tinggal dirumah keluarga saya. Pada awal menikah kami dapat mengelola keuangan keluarga dengan baik meskipun pada saat itu pekerjaan suami belum seenak sekarang. Dari sebelum menikah saya sudah bekerja dan pada waktu itu suami belum mendapat pekerjaan yang tetap sampai kami menikah. Saya melihat bahwa pernikahan betul betul membawa rejeki, 4 bulan setelah menikah suami diterima bekerja di sebuah perusahaan. Sampai pada akhirnya datang seorang teman yang bekerja sebagai marketing kartu kredit menawarkan pengajuan aplikasi yang mudah, suami saya tergiur dan berdiskusi dengan saya. Pada waktu itu saya melihat dari sisi positif kegunaan kartu kredit tersebut, bahwa kami belum punya tabungan yang cukup untuk keadaan darurat. Tapi ternyata penggunaan kartu kredit itu semakin tak terkontrol tidak jelas penggunaannya oleh suami, dan jumlah kartu kredit kami pun semakin banyak. Saya sadar betul hal itu akan membawa kami kepada masalah, dan akhirnya saya mencoba mengingatkan suami supaya tidak lagi menambah kartu kredit, tetapi suami tidak mendengarkan saya dan efek yang kami rasakan sangat terasa sampai sekarang. Kurang lebih 4 tahun ini saya yang berperan sebagai sumber keuangan keluarga, sayapun tidak dinafkahi meskipun menurut suami saya dia masih memberikan belanja bulanan melalui kartu kredit yang masih bisa saya gunakan. MOhon bimbingan ustad, karena kurangnya ilmu agama saya terhadap masalah saya ini. Apakah halal belanja yang saya terima dari suami tersebut? Karena seluruh gajinya (katanya) sudah tidak bersisa hanya untuk membayar tagihan2 kartu kredit tersebut, dan saya juga tidak pernah tau berapa gaji suami saya. Terima kasih sebelumnya, ustad..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s