Hikayat si Madun Tua Penguji Kebaikan

Hikayat SI Madun Tua

#Renungan

“Adalah si Madun yang telah berusia lima puluhan. Madun melamar kerja ke sebuah tempat atas rujukan salah seorang sahabat Fulan. Referensi yang bagus dari seorang sahabat menjadi bahan pertimbangan bagi Fulan untuk menerima si Madun. Sayangnya, Penasihat perusahaan tidak memberi sinyal positif atas kehadiran Madun.

Apatah boleh dikata….
Si Madun sudah terlanjur diterima.
Kemampuan kerja yang di bawah standar membuat Fulan goyah. Akan dikemanakan si Madun. Keluh kesah pun disampaikan kepada Fulanah. Atas masukan Fulanah bahwa dengan mempertimbangkan usia Madun yang sudah lebih dari setengah abad, layaklah jika si Madun dipandang sebagai tetua dan panutan para karyawan di perusahaan, dan …. akhirnya si Madun pun tetap dipertahankan. Fulanah bahkan bersedia saat diminta Fulan untuk memberikan sedikit arahan kepada Madun agar tetap bisa bertahan di perusahaan.

Lama kelamaan, si Fulan pun mulai belajar melihat sisi positif Madun. Fulan sangat berterimakasih kepada Fulanah, karena telah membantunya untuk berbuat sedikit lebih bijak.

Al hasil, si Madun tetap bertahan bekerja di perusahaan dengan tingkat standar profesionalitas yang rendah.
Hingga suatu ketika si Madun membutuhkan pinjaman uang untuk sebuah biaya yang lumayan besar.
Fulan pun tidak bisa memutuskan begitu saja atas kebutuhan Madun. Fulan kembali meminta masukan dari Fulanah. Dan dengan kecerdikan Fulanah, maka Madun pun bisa mendapatkan pinjaman tersebut. Dengan proses pengembalian yang sangat sangat lunak.

Hingga akhirnya, ada sebuah peristiwa ……
Dengan rayuan pulau kelapa atas kecantikan rupa seorang wanita berlabel Mrs. Twenty Five Millions Rupiahs (berdasar pengakuannya, uang belanja bulanan dari suaminya yang saat ini seorang dokter, adalah sebesar Rp. 25 juta per bulan), ternyata si Madun akhirnya berperan sebagai mak comblang atas kehadiran orang ketiga yang ingin masuk ke dalam rumah tangga Fulan dan Fulanah. Mrs. Twenty Five Millions Rupiahs menjanjikan kemudahan atas kehadiran sebuah rumah megah dan mewah untuk pengembangan perusahaan Fulan …. dengan permintaan, medapatkan perhatian dari Fulan dan dijadikan sebagai isteri kedua. Jika memang si Fulan bersedia menjadikannya sebagai isteri kedua, maka Mrs. Twenty Five Millions Rupiahs akan mengurus perceraiannya dengan suaminya yang sekarang. Bahkan si Mrs. Twenty Five Millions Rupiahs pun sudah mempersilakan si Fulan dan anak-anaknya untuk berkunjung ke rumah mewahnya, karena suaminya yang dokter hanya ada di rumah mewah itu di Sabtu Malam sampai Mingu Malam saja.

Di sini, penyesalan pun menghantui Fulanah….

Rasa tidak ikhlas dan tidak ridho atas kebaikan-kebaikan yang telah ditanamnya selama ini dengan keibaan kepada si Madun, ternyata dibalas dengan cara yang sangat menyakitkan.
Setelah Fulanah mengetahui keinginan si Mrs. 25 Millions Rupiahs atas Fulan, si Mrs. 25 Millions Rupiahs akan menelepon si Madun dulu agar bisa disambungkan dengan si Fulan, Karena si Fulan menolak permintaan Mrs 25 Millions Rupiahs untuk meneleponnya di saat dini hari, di saat sholat malam, agar tidak diketahui oleh Fulanah ……

***

Kisah di atas hanya sekelumit dari gambaran bahwa kebaikan yang ditanam adalah kebaikan Tuhan. Ketika merasa dikhianati, tidak seharusnya merasa sakit hati dan dendam, karena pembalas kebaikan yang hakiki adalah Tuhan. Bukan manusia. Justru manusia adalah penggoda dan penguji, seperti halnya Jin dan Syetan. Syetan yang selalu hadir untuk menguji manusia, untuk menghapus kebaikan yang ditanam oleh manusia

Dan, hanya Tuhan yang Maha Baik yang menuntun kebaikan yang dilakukan oleh manusia. Sehingga keikhlasan dan kesabaran yang memang sungguh berat, yang seharusnya dijalani oleh Fulanah. Bukan mendendam kepada si Madun Tua.

Semoga Tuhan, Allah, Rabb yang Maha Asih, Asah, dan Asuh selalu mengasuh hati-hati para Fulanah dan Fulan, sehingga tetap diarahkan menuju taqwa dan kemuliaan.

Happy Ramadhan 1436 H
Jika hati seputih awan, jangan biarkan dia mendung
Jika hati seindah sinar bulan purnama, hiasai dengan senyuman.

Pic. by Ieqbal Hakim

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Hikmah, Renungan, Tausiyah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s