Asimilasi dan Model Proses Sosialisasi

assimilation

Assimilation (asimilasi), didefinisikan sebagai “those ongoing behavioral and cognitive processes by which individuals join, become integrated into, and exit organization”. Artinya adalah bahwa asimilasi merupakan proses kognisi dan perilaku yang berkesinambungan yang terjadi pada individu saat bergabung, berintegrasi, dan keluar dari organisasi. Di sini, asimilasi merupakan dual process, yaitu proses timbal balik antara individu dengan perusahaan. Di satu sisi, perusahaan akan mempengaruhi karyawan, dan di sisi lain, karyawan yang akan memberi perubahan dalam beberapa aspek dalam perusahaan menuju hal yang lebih baik yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan, dan kemampuan.
Dari sisi perusahaan, akan mencoba untuk mempengaruhi adaptasi individu mellaui proses formal maupun informal. Seperti, memberikan informasi mengenai persyaratan kerja atau menentukan pakaian kerja yang formal agar karyawan lebih mudah untuk beradaptasi dengan budaya organisasi. Dari sisi karyawan, maka karyawan akan melakukan proses individualisasi, yaitu menyesuaikan aspek individunya (keinginan, harapan, kebutuhan, kemampuan) dengan aspek organisasi, sehingga bisa memberi dampak yang lebih baik kepada perusahaan. Sebagai contoh, karyawan akan memberikan masukan kepada perusahaan mengenai cara pengumpulan pembayaran, atau sekelompok karyawan menyusun program untuk menggunakan akhir pekan untuk acara bersama para karyawan (makan bersama diakhir pekan, berlibur setiap akhir bulan, dan sebagainya).
Penjelasan mengenai proses asimilasi di atas menunjukkan bahwa dalam proses asimilasi akan terjadi proses adaptasi di mana di dalamnya terdapat dua proses yaitu proses sosialisasi dan individualisasi. Proses sosialisasi dan individualisasi tersebut merupakan proses yang saling terkait, karena proses sosialisasi yang berlangsung terus menerus dalam perusahaan akan memberikan dorongan bagi karyawan untuk melakukan proses individualisasi dan menjadi bagian dari perusahaan. Lebih jauh, bisa dikemukakan bahwa dalam proses asimilasi tersebut maka terlihat tingkat signifikansi peran komunikasi.
Sosialiasi merupakan hal vital yang harus diperhatikan oleh pihak manajemen, karena begitu karyawan bergabung dalam sebuah organisasi, maka kayawan tersebut tidak akan beradaptasi secara otomatis dan cepat. Karyawan tersebut membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan organisasi secara bertahap. Tentu saja, tahapan ini tidak berlangsung cut and dried (bersifat rutin atau sama sepanjang waktu dan pada setiap orang). Perbedaan karakteristik individu dan situasi perusahaan akan memberikan pengaruh dalam setiap tahap sosialisasi. Namun demikian, secara umum bisa diklasifikasikan tiga tahapan dalam proses sosialisasi, yaitu fase anticipatory socialization, encounter phase, dan metamorphosis phase.

1. Anticipatory socialization (sosialisasi antisipasi)

Anticipatory socialization merupakan “socialization that occurs before entry into the organization”. (sosialisasi yang terjadi sebelum memasuki organisasi). Sosialisasi antisipatori meliputi sosialisasi terhadap pekerjaan dan sosialisasi terhadap perusahaan.
Aspek-aspek dalam sosialisasi antisipatori meliputi pembelajaran terhadap pekerjaan secara umum, pembelajaran terhadap posisi/profesi, pembelajaran terhadap organisasi.

2. Encounter phase (fase pertemuan)
Fase encounter merupakan “phase of socialization occurs at the organizational “point of entry”, when a new employee first encounters life on the job”. (fase sosialisasi yang terjadi pada saat karyawan baru memasuki organisasi dan berhadapan dengan pekerjaannya).
Louis mendiskripsikan encounter experience sebagai satu perubahan, kontras, dan keheranan; dan beranggapan bahwa karyawan baru harus bekerja untuk memahami budaya organisasi yang baru. Agar karyawan baru tersebut mampu menerjemahkan kehidupan baru di perusahaan yang baru, maka karyawan baru tesebut harus melepaskan predisposisi, pengalaman masa lalu, dan interpretasi lainnya.
Fase sosialisasi ini dapat menyebabkan tekanan (stres) bagi pendatang baru, terutama jika karyawan tersebut memiliki gambaran mengenai perusahaan tersebut seharusnya yang ternyata berlawanan dengan kenyataan yang dihadapi saat ini. Dalam hal ini, karyawan baru tersebut bisa jadi akan mengalami “reality shock”.
Fase encounter mencakup pembelajaran tentang organisasi baru dan peran baru; meninggalkan nilai-nilai lama, harapan, dan perilaku yang telah lampau.
Fase encounter melibatkan proses-proses komunikasi formal dan informal, meliputi program orientasi yang didesain secara organisasional, mentoring formal dan informal, dan pencarian informasi pada sebagian dari karyawan yang sudah ada.

3. Metamorphosis phase (fase metamorfosis)
Metamorfosis merupakan fase terakhir yang dilalui karyawan dalam proses sosialisasi. Proses metamorfosis dijelaskan sebagai “phase of socialization occurs when the new employee made the transition from outsider to insider”. (fase sosialisasi yang terjadi ketika kayawan beru telah melakukan transisi dari pihak luar (bukan karyawan) menjadi pihak dalam (menjadi karyawan)). Pada tahap ini, karyawan telah diterima, menjadi bagian dari organisasi dan berpartisipasi dalam organisasi melalui pembelajaran perilaku dan sikap baru dan/atau melakukan modifikasi atau penyesuaian dengan karyawan yang telah ada. Pada masa ini, relasi yang terjadi antara individu dengan organisasi bersifat statis, karena akan selalu ada ketidakpastian dan perubahan mengenai pemahaman karyawan terhadap peran dan budaya organisasi.
Perubahan yang terjadi dalam tahap metamorfosis ini bisa dilihat dari adanya penyesuaian pada transfer jabatan dalam organisasi. Ketika individu dipindahkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain dalam satu organisasi, mereka cenderung tidak terlihat sebagai karyawan baru dan mereka tidak mengalami tahapan sosialisasi yang formal. Tetapi individu ini masih harus memenuhi persyaratan pekerjaan baru, relasi sosial yang baru, dan kadang-kadang lokasi yang baru. Dalam hal ini dijelaskan bahwa melakukan transfer jabatan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain menunjukkan adanya poses asimilasi dan bagaimana komunikasi dengan supervisor dan rekan kerja pada jabatan baru dapat mempermudah transisi.

Disadur dari buku: Organizational Communication: Approaches and Processes (Fifth edition), Chapter 7. (by Katherine Miller, 2009)

Sumber gambar: limitstogrowth.org

About alhusna

an ordinary woman
This entry was posted in Book, Manajemen Sumber Daya Manusia and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s